Plans || Thought || Decision || -Backpacking to Karimunjawa-

Plans and Thought…

Hi kawan, kalian tau Pulau Karimunjawa? Pernah mendengar tentang Karimunjawa? Guess what, I’ve Just Been there!! Yes, Just been there, Buddy!! Mari kita ulang sekali lagi ya, biar terpancar suasana excited dan bahagianya. I’ve Just been Backpacking to Karimunjawa Island!! Hahaha..

Sebenarnya rencana untuk Backpacking setelah lulus kuliah ini sudah saya rencanakan sejak jauh hari sebelumnya, bahkan sudah sejak 1 tahun sebelum saya akhirnya lulus kuliah, atau bahkan lebih lama dari itu. Awalnya saya berencana untuk menjelajahi 4 negara Asean, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Tiket promo pun sudah saya kantongi, untuk rencana keberangkatan 1 tahun kemudian.
Berpedoman pada Quote “A traveler without observation is like bird without wings“, maka saya pun memulai observasi mengenai tempat-tempat yang akan saya kunjungi nanti. Googling, searching dan kawan-kawan lainnya yang berakhiran –ing pun sudah saya lakukan, bahkan saya sampai berhasil berteman akrab dengan teman-teman baru yang nantinya akan memberikan saya tempat untuk menginap selama berada disana.
Hingga pada suatu ketika, saya menemukan sebuah website lokal yang menyediakan E-Magazine gratis. Nah, di website itu saya menemukan banyak sekali ulasan tentang keindahan alam Indonesia. Seperti pulau Derawan, Lombok, Bali dan tempat-tempat lainnya. Hingga disuatu kesempatan ada seorang pembaca yang mengajukan sebuah pertanyaan,
“kapan nih mau menulis tentang tempat-tempat indah yang ada di luar negeri?”
pertanyaan itu pun kemudian dijawab seperti ini,
“nanti ya, kalau sudah ada yang mau membayar kita untuk mengulas tentang keindahan alam yang ada di luar negeri, baru kita akan mengulasnya”.
Awal membacanya kening saya sempat berkerut karena heran, “Lho, kenapa harus menunggu sampai dibayar dulu baru mau mengulasnya?”
Tetapi kemudian baru saya mengerti alasannya. Itu karena dengan kita menulis atau membahas tentang keindahan suatu tempat wisata, berarti kita sudah secara langsung mempromosikannya bukan? Kasarnya, ngapain sih mempromosikan tempat-tempat wisata yang ada di negara lain kalau kita tidak dibayar? Bukankah akan lebih baik kalau kita memporosikan tempat-tempat wisata yang ada di dalam negeri sendiri? Kapan lagi kita mau berbuat sesuatu yang nyata bagi negeri kita.
Apalagi untuk para Blogpacker, yang sepulang backpakcing pasti akan mengulas kembali tempat yang baru saja mereka kunjungi. Kenapa harus membahas tentang Australia, Bangkok, Singapura? Kenapa tidak membahas tentang Pulau Komodo, Lombok, atau Teluk Kiluan yang masih sangat minim informasinya. Kenapa lebih memilih untuk jalan-jalan ke Vietnam, Kamboja, Malaysia? Kenapa tidak lebih memilih untuk mengunjungi Flores, Tana toraja, Belitung dan tempat-tempat lain di Indonesia yang tidak kalah indahnya? Kenapa?
Soe Hok Gie pernah berkata lantang, “Bagaimana mungkin kita menjadi nasionalis kalau kita tidak mengetahui keindahan Indonesia dengan mata kepala sendiri? Tak perlu menjadi merah, hijau atau biru untuk menjadi nasionalis. Cukup dengan mengenal sendiri keindahan Indonesia, niscaya kalian akan otomatis menjadi nasionalis”.
Tetapi memang tidak bisa dipungkiri, ketika harga tiket bus dari Palembang-Semarang sama dengan harga tiket pesawat dari Palembang-Kuala lumpur, siapa yang tidak tergoda untuk lebih memilih pergi ke Kuala lumpur? Atau ketika biaya backpacking ke Raja Ampat sama besarnya dengan biaya backpacking ke 3 atau bahkan 4 negara Asean, siapa yang tidak ingin lebih memilih untuk pergi backpacking ke 3-4 negara Asean tersebut. Tentu saja, dengan fakta bahwa masih banyak orang yang berpikir dengan memajang foto dan ulasan tentang tempat-tempat di luar negeri jauh lebih keren ketimbang memajang foto dan ulasan  tentang tempat-tempat di dalam negeri. Lalu, ini salah siapa? Ini dosa siapa?

———————————————————————————–

Mr.Handsome and his Kate..!!!

Hasil observasi selama 1 tahun itulah yang membuat saya akhirnya berfikir ulang. Apakah pantai Phuket dan Pattaya akan lebih bagus dari pantai-pantai yang ada di Indonesia? Belitung, Karimunjawa, dan pantai-pantai lainnya yang ada di Indonesia. Apakah saya akan merasa puas hanya dengan melihat dan berfoto-foto di depan Petronas atau Merlion?
Setelah berfikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan rencana saya pergi ke 4 negara Asean tsb. Tiket promo PP yang sudah saya beli pun hangus begitu saja. Dan sebagai gantinya, saya menjatuhkan pilihan pada Pulau Karimunjawa untuk perjalanan kali ini. Ya, saya akan mengunjungi pulau Karimunjawa.
Saya menghabiskan waktu sekitar 2 minggu untuk mencari informasi mengenai pulau Karimunjawa ini, karena memang niat awal saya untuk pergi kesana sebagai backpaker tanpa menggunakan jasa biro tour yang sebenarnya banyak terdapat di sana. Maka saya pun harus benar-benar mempersiapkan perjalanan saya kali ini
***
Kamis  sore, 13 Oktober 2011
Saya sudah berada di pool bis yang akan membawa saya menuju Semarang. Tiket sudah saya pesan sehari sebelumnya, tiket bangku nomor 8. Bangku yang tepat bersebelahan dengan jendela.
Saya bersama para penumpang yang lain menunggu untuk dipanggil satu persatu ke dalam bis berdasarkan nomor urut bangku, persis seperti orang yang sedang mengantri sembako. Sudah terbayang dipikiran saya akan perjalanan jauh selama 30 jam lebih menuju Semarang yang membosankan, karenanya saya memilih bangku yang dekat dengan jendela, sehingga nanti ketika saya merasa bosan dijalan, saya bisa memandang atau bahkan melamun menatap keluar jendela sembari mendengarkan musik.
Tetapi takdir berkata lain. Rencana itu buyar seketika ketika saya melihat seorang bapak, dengan barang bawa’annya yang lumayan banyak tiba-tiba menyerobot bangku saya. Dengan wajah polosnya si bapak meletakkan barang bawa’annya di bawah bangku nomor 8 milik saya, yang saking banyaknya hingga menyebabkan antrian panjang para penumpang lain yang sudah dipanggil untuk masuk kedalam bis, tetapi terhalang si bapak yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya. Bukan hanya saya yang gerah dengan pemandangan ini, si kondektur pun tidak kalah gerahnya. Maka kemudian si kondektur mulai berteriak dari luar bis, memarahi semua yang bisa dimarahinya, tetapi anehnya pandangannya mengarah kepada saya. Shit..!! Kondektur mengira sayalah biang dari semua kejadian ini. *Sigh
Belum selesai sampai disitu, setelah bapak yang ganteng itu selesai merapikan barang-barangnya, kemudian dengan penuh percaya diri dia pun  duduk di bangku yang seharusnya menjadi milik saya, hak saya, bangku nomor 8. Dan masih dengan anggunnya, dia kemudian melemparkan senyum tak berdosanya kepada saya. Oke baiklah, saya balas senyum dengan kemudian menghempaskan tubuh saya untuk duduk di bangku nomor 7. Bangku miliknya.

Bis yang saya tumpangi sudah mulai berjalan. Belum jauh jarak yang ditempuh, si Bapak sebelah sudah tampak tidak nyaman dengan hanya berdiam diri saja. Kemudian dengan ramahnya dia pun mengajak saya mengobrol. Dengan gaya bicara satu arah, yaitu si bapak ganteng bertanya – saya menjawab, kemudian dilengkapi dengan dia menasehati disertai dengan menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya, maka tidak bisa saya katakan ini adalah obrolan yang menyenangkan. Sampai-sampai beberapa kali pertanyaan si bapak hanya saya jawab dengan senyuman saja, karena saya tau apa yang akan terjadi apabila saya menjawabnya, yaitu nasehat yang dibumbui cerita pengalaman hidupnya, yang sungguh terdengar seperti dikarang seadanya.
For your information, tentang si bapak ganteng yang duduk di sebelah saya ini, dia sangat tidak senang jika dia sedang berbicara tetapi kita tidak menyimak atau bahkan mengalihkan perhatian kepada hal yang lain. Pernah suatu kali ketika si bapak sedang bercerita dan saya tidak sengaja tertidur, si bapak pun tidak segan-segan menyenggol badan dan paha saya agar saya terbangun dan kembali harus mendengarkan ceritanya. -__-”
Belum lagi ditambah bawaa’an si bapak. Taukah kalian kawan, bahwa bapak yang ganteng ini juga membawa ayam di dalam bis, seekor ayam kate. Lengkaplah sudah penderitaan saya, karena ayam yang berada di dalam kardus mie itu, yang dibuat seolah-olah makanan itu, aromanya sungguh luar biasa dahsyat. Maka ketika si bapak sedang tertidur pulas, seringkali saya semprotkan parfum yang saya bawa ke kardus tempat ayam bersembunyi, kemudian saya lanjutan dengan menendang kardus itu.
———————————————————————————–

Stuck in the toilet..!!!

Bakauheni, Jumat 07.00 wib…
Pagi hari, tiba-tiba saya terbangun karena suara riuh para penjual jajanan yang masuk ke dalam bis. Bis sudah sampai di Pelabuhan Bakauheni untuk menunggu antrian masuk kedalam kapal. Dengan mata yang masih sangat berat karena mengantuk, entah kenapa saya merasakan seperti ada beban yang berat menekan bahu kanan saya, dan ketika saya lihat, oh nice.. ternyata si bapak ganteng sedang tertidur dengan sangat pulasnya di bahu saya. Selamat, untuk pertama kalinya kami terlihat sangat mesra sekali.
Tidak lama kemudian, bis yang saya tumpangi pun berhasil masuk ke dalam kapal. Semua penumpang secara otomatis turun dari bis dan mulai mencari tempat masing-masing di atas kapal, begitupun juga saya. Berjalan gontai dengan kondisi yang sangat mengantuk, setelah kejadian kebut-kebutan yang memaksa saya meminum 2 antimo sekaligus. Oh ya, beberapa jam sebelumnya di pagi buta, ada salah seorang penumpang bis yang mendapatkan panggilan telepon dari keluarganya, yang menanyakan sudah sampai dimana,dll. Si penumpang pun menjawab dengan suara yang cukup keras bahwa dia masih di Lampung. Keluarganya pun kaget karena mengetahui bahwa dia baru sampai di Lampung. Seolah ingin menyindir, penumpang yang keren itu pun menjawab dengan suara yang lebih keras lagi, bahwa bis yang ditumpanginya itu berjalan sangat pelan sekali, seperti siput, karena itulah maka bis baru sampai di Lampung. Bak disambar geledek di siang hari (sengaja di dramatiskan), sopir yang mendengar kata-kata itu spontan tidak terima, dia pun menginjak gas kencang-kencang sehingga membuat bis melaju sangat cepat. Lubang, tikungan, semua dilalui dengan membabi buta. Dan jadilah di pagi buta itu, kami para penumpang bis diperlakukan bak kacang goreng. Hampir bisa dipastikan semua penumpang merasa mual dan pusing, termasuk saya. Beruntung saya membawa Antimo di dalam tas, dan tidak tanggung-tanggung, saya minum dua!! hahaha… dan efeknya adalah rasa kantuk yang luar biasa.
Turun dari bis, yang ada dipikiran saya hanyalah mencari tempat untuk tidur. Tapi kemudian takdir kembali berkata lain, si bapak sebelah memaksa saya untuk ikut dengannya.
“Yuk ikut saya saja, kita keatas ngeliat laut”
Menyerahkan diri kepada bapak yang ganteng dan keren itu, saya pun berjalan mengekor  dibelakangnya. Berjalan dengan kondisi mengantuk, sungguh yang ada di pikiran saya hanyalah ingin mencari tempat untuk leyeh-leyeh dan tidur.
Di lantai 2 dek kapal, saya melihat sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat banyak sekali matras empuk, yang hanya dengan membayar uang sebesar Rp.5000,- kita sudah bisa tiduran disana. Ok, saya mau kedalam! Baru saja saya mau masuk kedalam ruangan itu, tiba-tiba si bapak yang ganteng dan keren itu pun kembali menarik tangan saya lagi,
“ayo kita keatas lagi, ngeliat laut”
Oh God.. Kami terlihat sangat mesra sekali layaknya seorang ayah dan anaknya yang masih balita, untung saja saya tidak merengek minta digendong kepada bapak itu.
“mau iut eatas, api endongg..” (mau ikut keatas tapi gendong).
Berada di lantai kapal paling atas, perpaduan antara angin pagi yang sepoi-sepoi dan sinar matahari pagi yang belum begitu terik, membuat mata saya bertambah berat. Beruntung disana terdapat bangku panjang beserta meja yang terbuat dari kayu. Saya pun duduk disana dan meletakkan kepala saya yang teramat berat di meja itu. Untuk dapat tertidur pulas bukanlah hal yang sulit saat itu, karena memang kondisinya sangat mendukung sekali. Permasalahannya adalah si bapak ganteng itu, yang saat itu baru saja mengetahui bahwa ternyata masih ada satu bagian lagi yang lebih atas di kapal. Dia pun membujuk saya untuk ikut dengannya keatas. Tapi kali ini saya terpaksa menolaknya.
“Saya disini saja, pak. Ngantuk mau tidur”
“Tidur diatas aja, lebih enak” Si bapak masih belum mau  menyerah
“Saya disini saja pak” Jawab saya
Bapak yang ganteng itu pun pergi seorang diri keatas, menaiki tangga, kemudian membalikkan badannya kearah saya, dan bergaya seolah benar-benar menikmati keadaan diatas sana. Dari bahasa tubuhnya saya dapat mengartikan,
“nyesel deh lo gak ikut gue keatas sini”   -__-”
***
Saya terbangun karena bunyi suling kapal yang begitu keras. Kapal sudah mendekati Pelabuhan Merak, Banten. Cek tas kamera, cek dompet, cek HP, ok semua lengkap. Saya pun bergegas turun ke lantai bawah kapal. Tapi sebelum masuk kedalam bis, saya menyempatkan diri pergi ke toilet dulu untuk buang air kecil. Terdapat 3 buah toilet di lantai ini, 2 buah toilet diperuntukkan untuk wanita, dan 1 buah toilet untuk laki-laki. Di dalam toilet laki-laki ini, ketika kita masuk kedalam maka terdapat banyak bilik untuk buang air kecil, dan terdapat 3 ruang khusus lainnya yang digunakan untuk buang air besar. Saya pun masuk kesalah satu ruang khusus itu, karena ingin merasa lebih aman ketika buang air kecil.
Keluar dari  ruang khusus, saya bertemu dengan seorang bapak-bapak yang juga baru saja selesai buang air kecil di salah satu bilik. Saya pun tersenyum ramah kepada bapak itu. Ketika hendak keluar dan membuka pintu toilet, ternyata pintunya tidak bisa dibuka. Wao.. Saya tarik sekuat tenaga, tetap tidak bisa dibuka. Oke, sekarang saya dorong, tapi masih juga tidak bisa dibuka. Hmm.. bersikap santai, saya kemudian bertanya kepada si bapak.
“emm.. kok pintunya gak bisa dibuka ya pak?”
“hah..?!? masa’?”
Si bapak pun mengambil alih kendali, tarik sana, tarik sini, dorong sana, dorong sini.
Merasa cemas dan letih.. si bapak pun menyerah.
“Dek, ayo kita tarik sama-sama!!”
Kami pun menarik pintu itu sekuat tenaga bersama-sama, sekuat tenaga yang kami punya, tapi tetap tidak bisa dibuka. Kami dorong sekuat tenaga, juga tidak bisa.
Suling kapal pun berbunyi lagi, si bapak bertambah kalut dan panik.
“Waduh, gimana ini nanti kalo keluarga saya mencari-cari saya”. Wajahnya memucat
Saya hanya bersandar lemas pada dinding toilet, terlalu lelah untuk bereaksi panik seperti si bapak. Bukan karena saya tidak merasa panik atau cemas, tapi ini karena saya merasa  masih sangat mengantuk.
Tiba-tiba, “Tollooooonggg… tolloooonggg…”, Si bapak pun berteriak keras meminta tolong, kemudian menendang-nendang pintu toilet, menggedor-gedornya. Well, persis seperti sebuah sinetron. -__-”
“Tolooooonggg… tolloooonggg… tolong bukain pintuuuuu…”
“Toloooonngggg…. Bukain pintunyaaaaaaa….!!!!”
Kemudian, pintu pun terbuka dengan sendirinya. Seorang Ibu dengan anak perempuan kecilnya tampak berada diluar sambil memandang aneh kedalam toilet. Si bapak tersenyum, cengengesan melirik saya. Dengan tampang polos si bapak melihat kearah saya.
“Tuh kan.. sudah saya bilang..”
.
Saya pun shock, loh.. memangnya tadi si bapak bilang apa yah?!?
Kita berdua pun keluar dari toilet dengan cengengesan. Merasa malu, terlebih si bapak yang malu sama saya karena sudah bersikap terlalu panik. hahaha.. si bapak lebay : )
Ternyata tadi kita sudah salah menarik dan mendorong pintu. Akibat pintu kapal yang sudah tua dan karatan, dan ditambah dengan kondisi yang sedang mengantuk, membuat kita salah mengira bahwa salah satu besi yang ada di dalam toilet itu sebagai gagang pintu. Hmm…
———————————————————————————–

Is your Couch Available..?!?

Mangkang, Jumat 22.30 wib
Setengah sebelas malam, bis akhirnya sampai di Semarang. Senang, gembira, sedih juga, saat harus berpisah dengan bapak ganteng yang sudah menjadi teman saya selama di bis, dan juga si ayam yang tidak kalah gantengnya kalau dibandingkan dengan sang pemilik. Si bapak ganteng berpesan kepada saya untuk selalu berhati-hati dimanapun saya berada. “Nggih pak ee.. dalem badhe ngatos-atos..” (Iya bapak, saya akan berhati-hati).
Turun di terminal Mangkang pada malam hari, dimana tidak ada lagi angkutan umum yang beroperasi bukanlah hal yang disarankan. For your information, terminal Mangkang ini letaknya di pinggiran kota Semarang, dan butuh waktu 1 jam untuk menuju ke pusat kota. Sebenarnya sudah ada seorang teman yang saya kenal dari komunitas Couchsurfing, yang menyatakan kesediaannya untuk menampung saya selama saya berada di Semarang. Tapi dengan tidak adanya lagi angkutan umum yang beroperasi malam itu, membuat saya tidak bisa kemana-mana. Apalagi si teman tersebut memang hanya menyatakan dapat menampung, tapi tidak bisa menjemput saya. Maka saya pun membatalkan niat untuk menginap dirumahnya. Tentu saya tidak bisa begitu saja membatalkannya, mengingat kemungkinan bahwa dia sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan saya, entah itu hanya dengan bersih-bersih rumah, atau apapun itu. Maka saya pun meneleponnya, meminta maaf dan menyatakan alasan mengapa saya membatalkan rencana untuk menginap dirumahnya. Mendengar hal itu, si teman pun meminta maaf kepada saya, karena tidak bisa membantu banyak, tidak bisa menjemput saya karena tidak ada kendaraan. Oh.. Such a good friend..
Merasa tidak bisa kemana-mana, saya pun duduk di salah satu sudut di terminal Mangkang. Tiba-tiba saya teringat dengan beberapa teman dunia maya saya. Teman Facebook, Fotografi, Couchsurfing dan teman-teman dunia maya lainnya yang tinggal di Semarang. Saya pun mengirimkan sms-sms indah kepada mereka.
“Hey.. i’m at ur hometown!! Wondering if ur couch available for me : )”
“Aku lagi di Semarang, tapi belum tau mau nginep dimana. Kamu dimana? Mau ketemuan?”
Sms yang dijamin para penerimanya akan berpura-pura sudah tidur ketika mendapatkannya.
Satu jam menunggu, tidak ada satu pun balasan dari mereka. Well, saya pun sudah berfikir untuk tidur di terminal Mangkang. Dengan perasaan was-was, saya pun berjalan mencari lokasi yang bagus dan aman sebagai tempat untuk saya tidur. Masih bingung antara mau tidur di mushola atau pos jaga petugas terminal, tiba-tiba ponsel saya berbunyi karena ada sms yang masuk.
“Adit kamu dimana, nginep ditempat saya aja. Nanti saya jemput naik motor, kamu tunggu di pinggir jalan aja biar nanti gampang keliatan”. #Yiihaaa.. : )
———————————————————————————–

Best Sunrise Ever..!!!

Terboyo, Sabtu 04.00 wib
Saya mendarat di terminal Terboyo, Semarang pukul 4 pagi dengan diantar oleh seorang teman yang baik hati yang menyediakan tempat untuk saya menginap malam sebelumnya. Tujuan saya kali ini adalah Jepara, salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Dari beberapa artikel yang saya baca di internet, dibutuhkan waktu selama 2 jam untuk mencapainya.
Cukup lama menunggu, akhirnya bis tujuan Jepara pun terlihat. Ukurannya tidak terlalu besar, sama seperti bis angkutan kota yang ada di kota-kota lainnya. Setelah berpamitan dengan si teman, saya pun naik ke dalam bis tujuan Jepara itu. Dan karena ingin meletakkan tas carrier saya di bagian atas bangku paling belakang, maka saya kemudian memilih untuk duduk dibangku paling belakang, di bagian sisi kanan bis.
Perjalanan menuju Jepara ini benar-benar menyenangkan. Menghirup udara segar di pagi buta, dan berada satu bis dengan penumpang yang kebanyakan adalah para ibu dan bapak yang sudah cukup berumur dan tampak sudah saling mengenal satu sama lain, dengan barang bawa’an bermacam-macam sayuran, mengobrol dengan logat jawa yang sangat kental medhok-nya. Mendengarkan seorang bapak paruh baya yang selalu berkelakar sepanjang perjalanan, yang kemudian disambut tawa para ibu, seringkali saya pun ikut tertawa, walau tidak terlalu mengerti arti pembicaraan mereka. *Ahh.. really miss this moment.. : )
Sudah hampir separuh perjalanan, ketika bis akhirnya melalui area persawahan yang ada di daerah Demak. Terhampar di sisi kanan saya, area persawahan yang hijau, yang benar-benar menyejukkan mata bagi yang melihatnya. Kemudian tiba-tiba, saya melihat seberkas sinar di ufuk timur. Perlahan tapi pasti, sinar itu pun semakin membesar, memencar ke sekitar langit yang belum sempurna warnanya. Lalu tampaklah sebuah garis lengkung yang indah. Baru kemudian saya tersadar.
Oh my God..!! I’ts Sunrise..!!
Perlahan, persis seperti sedang merambat keluar dari perut bumi!!
I Swear this is the best Sunrise I’ve ever seen..!!
Sempat terpukau beberapa detik, hingga kemudian tangan saya pun reflek mencari tas kamera. Yang ada dipikiran saya ketika itu hanyalah bahwa saya harus mengabadikan momen langka yang entah kapan lagi saya bisa melihatnya ini.
Saya cari tas kamera saya, tapi tidak ada. Baru tersadar bahwa tas kamera, saya masukkan kedalam carrier, dan carrier itu berada tepat di belakang saya, di atas kursi belakang yang sedang saya duduki. Jarak kami tidaklah jauh, bahkan sangat dekat. Tetapi sialnya, karena penumpang bis yang terlalu padat dan berjejal, maka agak sulit bagi saya untuk menjangkau tas carrier itu, apalagi untuk mengeluarkan kamera saya dari dalamnya.
Tapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Dengan setengah berdiri dan membalikkan badan saya pun mencoba untuk menjangkau dan menarik-narik carrier saya. Penumpang yang saat itu duduk di dekat saya merasa sedikit terganggu dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa jawa. Saya balas dengan hanya tersenyum sambil terus menarik-narik carrier itu. Sulit, karena tas yang berat dan besar, ditambah dengan penumpang bis yang padat pada saat itu, akhirnya saya pun mengalah dan kembali duduk lagi. *Sigh*
Merasa menyesal karena tidak bisa mengabadikan momen yang langka ini, sambil terus memandangi indahnya hamparan persawahan, yang diujungnya terdapat matahari yang baru menampakkan diri, saya teringat sebuah Quote yang pernah saya baca,
“There will be times when you will be in the field without a camera.
And, you will see the most glorious sunset,
or the most beautiful scene that you have ever witnessed.
Don’t be bitter because you can’t record it.
Sit down, drink it in, and enjoy it for what it is!”.
Saya merasa benar-benar sedang berada pada “saat-saat itu”. Menatap sebuah adegan terindah yang pernah saya lihat, tapi tanpa adanya kamera di tangan. Maka yang bisa saya lakukan hanyalah menikmati semua itu.. hanya duduk dan menikmatinya.
***
“Akan ada saatnya ketika kamu berada pada sebuah tempat, tanpa kamera.
Dan, kamu akan melihat sebuah pemandangan matahari  terbenam yang termegah,
atau adegan terindah yang pernah kamu saksikan.
Jangan bersedih karena kamu tidak bisa mengabadikannya.
Duduk dan nikmatilah!” – DeGriff
———————————————————————————–

Hello my (new) Friends… : )

Pelabuhan Kartini, Sabtu 07.00 wib
Sudekat..!!
Satu tahap lagi, hanya perlu 6 jam lagi, maka saya akan sampai di pulau Karimunjawa!
Turun dari becak tepat di depan KMP Muria, sebuah kapal ferry yang akan membawa saya sampai ke Karimunjawa, dengan slogan indahnya yang tertulis di badan kapal, “Bangga Menyatukan Nusantara”. Saya pun langsung bergegas memasuki kapal dan menaiki tangganya dengan bersemangat. Sampailah saya di sebuah ruangan yang telah ramai dipenuhi para penumpang lain yang juga akan menuju ke Karimunjawa. Berjalan perlahan diantara deretan bangku-bangku penumpang, sambil terus melihat dan  memperhatikan sekitar, saya sedang mencari beberapa orang teman! Teman-teman yang saya kenal dari sebuah forum di internet, yang dengan mereka nantinya saya  akan berbagi biaya menyewa perahu, berbagi biaya homestay, dan menjelajah  Karimunjawa bersama-sama.
“Adit  yah? Lu keliatan kurusan dibanding foto di facebook, dit” Sapa salah satu dari mereka.
Dan inilah mereka, tepat dihadapan saya, 4 orang teman yang mengesankan. Yang hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, kami sudah bisa tertawa-tawa layaknya sekumpulan teman lama.  Rendy, Yuni, Rere, dan Berto.
Hello my (new) Friends.. : )

To be Continued… Next story

———————————————————————————–

  1. cant wait for the next story

    great job :)

    • aloysia
    • November 12th, 2011

    such a nice long journey! :D

    cepet post cerita selanjutnya :P

  2. inget proses ngeditnya yang penuh drama
    inget perjalananmu yang penuh drama juga

    ya, ceritanya selalu kamu sampaikan ke telingaku dit.
    tetapi yang kali ini, telah berhasil terbaca mata :)

    membacanya, seperti ikut duduk di bangku sebelahmu.
    ikut memperhatikan matahari itu :)

    • Iya, selama di perjalanan, setiap lagi kesel sama si bapak ganteng, aku pasti langsung sms kamu ya Fa.. haha..

  3. WOW!!!

    One step ahead dari saya. KEREN nyalimu dit.

  4. Hahaha iyah, rasanya seperti baru kemarin. Padahal sudah lewat sebulan. Waktunya seakan berlarian ya..

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: