Fun || Friends || Fabulous || -Backpacking to Karimunjawa-

Baca cerita sebelumnya Disini

Welcome to Karimunjawa…

Karimunjawa, Sabtu 14.00 wib
Terpesona, mungkin itulah yang kami semua rasakan, ketika KMP Muria yang dengan “Bangga Menyatukan Nusantara” itu, akhirnya berhasil merapat di dermaga pelabuhan Karimunjawa. Warna air laut yang jernih, hingga membuat terumbu karang yang berada di bawahnya pun tampak begitu jelas jika dilihat dari atas kapal. Benar-benar memanjakan bagi mata yang melihatnya. Sengaja dengan sedikit berlama-lama di atas kapal karena ingin mengabadikan pemandangan itu, saya pun akhirnya turun kebawah, kemudian bergabung bersama teman-teman lain yang sudah lebih dulu turun dari kapal.
Panas yang menusuk kulit, terik, dan terbakar, itulah yang saya rasakan ketika pertama kalinya saya menginjakkan kaki di atas tanah Karimunjawa. Di pulau yang pada pukul 09.00 wib pagi hari, bisa menyamai panas pada pukul 12.00 wib di kota-kota lain itu, tentu sangat mudah bagi kita untuk mengeksotiskan warna kulit. Tetapi itu bukan masalah besar, karena saya yakin, perjalanan, kenangan dan pengalaman yang tengah menanti saya di pulau itu akan bertahan lama, bahkan mungkin selamanya mampu menetap di dalam ingatan saya.
Welcome to Karimunjawa.. : )
———————————————————————————–

Indonesia itu indah, kawan : )

Karimunjawa, Minggu 07.00 wib
Pagi itu, kami berlima sudah bersiap untuk pergi berwisata laut. Ditambah dengan Armin Fletcher, seorang teman satu homestay yang memutuskan untuk bergabung bersama kami pada hari itu, kami pun berjalan kaki menuju ke sebuah dermaga yang berjarak sekitar 10 menit dari homestay. Dermaga yang menjadi tempat bersandarnya perahu-perahu nelayan, dan menjadi starting point bagi orang-orang yang ingin pergi berwisata laut.
Sekilas tentang Armin..

Dia adalah teman satu homestay yang selalu dengan tulus mengulurkan tangannya pada kami, ketika kami hendak menaiki perahu setelah lelah melakukan snorkling seharian. Backpacker asal Austria yang sudah melanglang ke lebih dari 20 negara ini selalu membawa hammock di dalam tas punggungnya. Dengan humor segar yang masih saya ingat sampai sekarang, Japan for Lunch..!! (for pic : Armin and his hammock)
***
Kegiatan hari itu diawali dengan mengunjungi sebuah penangkaran Hiu. Sebuah tempat dimana terdapat puluhan ekor Hiu yang katanya sudah jinak dan terbiasa dengan manusia. Diawali oleh Armin yang mencoba berenang dengan gerombolan Hiu itu, kami berlima pun akhirnya turun juga walaupun dengan dilimuti perasaan sedikit was-was.
Jujur saja, berdiri di dalam kolam yang dipenuhi oleh Hiu mampu membuat bulu kuduk saya berdiri dan didekap rasa cemas. Apalagi ketika sang predator yang terlahir ganas itu berenang mengelilingi kami dengan jarak tak lebih dari sejengkal. Oke, Hiu-hiu itu memang tampak sudah jinak, tetapi bagaimana kalau mereka merasa lapar, dan naluri membunuh mereka tiba-tiba keluar? atau bagaimana jika diantara kami berlima ada yang kakinya berdarah karena menginjak sesuatu yang tajam di dalam kolam? *Wajah memucat*
Tetapi karena rasa penasaran, kami pun lantas tidak merasa puas hanya dengan berdiri, kami memutuskan untuk mencoba sensasi yang berbeda, yaitu dengan bersnorkling di kolam yang dipenuhi oleh Hiu-hiu tersebut. Persis seperti yang terjadi di dalam sebuah adegan film-film action, dimana ketika sang pemeran utama sedang menyelam di sebuah laut yang dalam, dan secara tidak sengaja bertemu dengan seekor Hiu, bertatapan, dan jreng jreng. Itulah yang saya rasakan pada saat itu. Berenang sambil melihat dengan jelas keadaan bawah kolam dengan menggunakan peralatan snorkling, kemudian dengan tiba-tiba tepat di hadapan saya muncul seekor Hiu yang sedang berenang mendekat. Terlihat jelas oleh saya tatapan buas dari mata sang predator itu. Kami pun bertatapan, dan terus saling berenang mendekat. Terus mendekat, dan hahaha. Ternyata walaupun sudah akrab dengan manusia, tetapi tatapan pemangsa yang sungguh mengerikan yang dimiliki oleh sang predator itu tetap tidak bisa dihilangkan. Ok, saya kalap dan berdiri.. kemudian berlari menaiki  tangga : ))
***
Kegiatan selanjutnya adalah snorkling disekitar kawasan pulau Menjangan kecil, yang hanya  berjarak sekitar 20 menit dari Pulau utama Karimunjawa. Memiliki luas 46 hektar, di pulau itu sudah berdiri beberapa resort yang disewakan sebagai tempat untuk menginap. Dengan gugusan terumbu karang indah yang tersebar di sekitar pulau itu, menjadikan menjangan kecil salah satu spot snorkling yang cukup populer di Karimunjawa.
Lupakan sejenak cerita saya yang melakukan snorkling di penangkaran Hiu, maka snorkling di menjangan kecil ini adalah pengalaman pertama saya melakukan snorkling, snorkling dalam artian yang sebenarnya.
Bisa melihat dengan jelas keindahan terumbu karang yang berwarna-warni secara langsung, dengan ratusan ikan cantik yang berenang diantara terumbu karang, benar-benar sebuah pengalaman yang romantis. Maka berkali-kali saya hanya mampu mengucapkan kata “wow”. Sungguh saya seperti sedang bertamu kedalam dunia yang benar-benar berbeda, menatap kehidupan  lain yang tidak pernah saya temukan di atas daratan. Hanya suara nafas yang terdengar setia menemani saya menikmati keindahan bawah laut karimunjawa ini, mampu membuat saya lupa diri, sehingga seringkali ketika saya mencoba melihat ke permukaan, kemudian saya baru  tersadar bahwa ternyata saya sudah terlalu jauh dari perahu.
Kalian tau kawan, seperti kata sebuah pepatah “Dimana ada gula, disitu ada semut”, maka seperti itulah saya mengibaratkan “Dimana ada terumbu karang, maka disitu ada kehidupan”. Dengan tersebarnya begitu banyak terumbu karang di kawasan menjangan kecil ini, maka beragam pulalah makhluk yang hidup di sekitarnya. Ratusan ikan cantik berenang disana, beraneka ragam warna. Tidak jarang saya menemukan clown fish, sang nemo yang sungguh menggemaskan sedang bersembunyi manja diantara indahnya terumbu karang. Bahkan karena tidak dapat menahan diri untuk melihat lebih dekat sang badut jelita, maka saya pun kemudian menyelam lebih dalam lagi untuk mendekatinya. Tetapi kemudian, tiba-tiba air laut yang asin itu, yang sungguh mampu dalam seketika membuat mata menjadi begitu perih ketika bersentuhan dengannya, berhasil memasuki snorkel saya tanpa aba-aba, dan seketika meluncur deras kedalam mulut saya yang pada saat itu sedang bersemangat menghirup udara. Panik, saya pun melepaskan alat itu dari mulut saya, kemudian sambil mencoba untuk tidak tenggelam ditengah laut dengan tanpa menggunakan jaket pelampung, saya pun berusaha bernafas secara normal melalui hidung. Tetapi kawan, alangkah sempurnanya saat itu ketika ternyata saya lupa bahwa hidung saya masih tertutup oleh masker. Semakin kuat saya bernafas, semakin tidak ada udara yang masuk melalui lubang hidung saya. Panik, kalap, dan glek.. glek.. glek.
Yea yea, Segaaarrrr… saya minum air laut : ))
Sungguh pengalaman snorkling di Karimunjawa akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup saya. Indonesia itu benar-benar indah, kawan.. : )


Setelah kejadian meminum air laut yang mengesankan, maka saya putuskan untuk snorkling dengan menggunakan jaket pelampung.

———————————————————————————–

Sha  dan Bong, Terbanglah kau Bolang..!!

Sekilas tentang Sha dan Bong..
Sha adalah panggilan untuk Rere sang kakak, dan Bong adalah panggilan untuk Berto sang adik. Kakak beradik yang benar-benar teruji kekompakkannya, yang menganut faham bahwa foto diri di sebuah tempat wisata, adalah bukti otentik bahwa kita pernah berkunjung ke tempat tersebut.
***
Merasa begitu lelah dan lapar setelah seharian melakukan snorkling, kami pun menuju ke sebuah pulau kecil untuk beristirahat dan mengisi perut kami yang kosong. Cemara kecil namanya, sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni, yang hanya dalam waktu 15 menit maka kita sudah bisa mengitari setiap jengkalnya. Dengan hamparan pasir putih yang bersih, air laut yang jernih, latar belakang pohon cemara, dan view yang menghadap ke sebuah bukit yang indah, pulau kecil ini sering dijadikan tempat untuk bersantai dan melepas lelah setelah seharian melakukan aktifitas laut.
Dan karena tidak memiliki sebuah dermaga sebagai tempat untuk bersandarnya perahu, maka perahu yang kami tumpangi pun harus berhenti agak jauh dari bibir pantai. Kami terpaksa turun dari perahu, dan berjalan menuju daratan.
Seperti biasa, dimulai dari Armin, kami berlima pun mengekor turun berjalan dibelakangnya. Dengan tinggi air yang mencapai paha orang dewasa, perlahan kami berjalan menuju daratan pulau Cemara kecil. Tidak lama berselang, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan,
“Bong, bong.. fotoin gue bong..”
dan dilanjutkan dengan…
“Sha.. shaa.. Gue juga shaa..”

Kedua kakak beradik yang kompak itu sudah memulai aksinya untuk mengabadikan bukti otentik mereka di pulau Cemara Kecil.
***
Sesampainya di daratan, seperti biasa Armin langsung bergegas mengeluarkan hammock kesayangannya dari dalam tas punggung yang selalu dia bawa, kemudian mengikatkan tiap ujungnya pada sebuah pohon yang dirasa cukup kuat untuk menopang beban tubuhnya.
Sambil menunggu hidangan makan siang selesai dibuat, saya bersama Rendy dan Yuni pun duduk di tumpukan pasir cemara kecil yang putih, sembari menikmati pemandangan indahnya air laut, dengan gradasi warna ungu dan biru muda yang benar-benar mengagumkan.
By the way, dimanakah gerangan Sha dan Bong? Yap, tidak perlu diragukan lagi, mereka tepat berada di hadapan kami, sedang bersemangat mengumpulkan bukti-bukti otentik yang akan mereka bawa pulang nanti.
Berbanding 360 derajat dengan Armin yang tidak pernah sekalipun saya lihat memotret dirinya sendiri. Maka ShaBong ini tidak pernah luput mengabadikan foto diri mereka di setiap tempat yang dikunjungi. Yah, semua manusia memang bebas menentukan cara berekspresi dalam hidup mereka. Seperti ShaBong, begitulah cara mereka mencintai perjalanan hidupnya. Percaya atau tidak, untuk 10 langkah yang dilalui, maka 6 foto akan tercipta. 3 foto diri Sha, dan  3 lainnya  punya Bong. Bergantian untuk saling memotret dan dipotret, disinilah terlihat jelas sekali kekompakkan mereka. : )
Jangan tanya bagaimana raut muka Sha ketika mengetahui bahwa baterai kameranya sudah sekarat, sedangkan masih ada 1  pulau lagi yang akan kami kunjungi. Atau bagaimana pasrahnya si Bong ketika di suatu pagi, hari berikutnya, dia tersadar bahwa baterai kameranya belum dicharge, padahal 10 menit lagi akan pergi berwisata laut. Pucat pasi tak punya energi. hahaha…
Setelah selesai, merasa lelah, dan merasa sudah cukup mengumpulkan bukti-bukti otentik itu, ShaBong pun melakukan  hal yang tidak kalah menakjubkan lainnya. Di bawah teriknya sinar matahari yang sungguh benar-benar membakar kulit, dimana kebanyakan para pengunjung lebih memilih untuk berteduh dibawah rindangnya pohon sembari menunggu ikan selesai dibakar, Sha berjalan dengan pasti menuju pantai, duduk disana, kemudian dilanjutkkan dengan merendam seluruh badannya di jernihnya air laut. Tenang sekali, nyaris tanpa suara, Sha terlihat seperti orang yang sedang sangat menikmati sebuah anugerah dari sang pencipta. Yaitu anugerah air (laut), dan (panas) sinar matahari.
Hmm, bukankah perpaduan  antara air + panas = Direbus?
Bong sang adik tidak mau kalah keren dibanding sang kakak, maka dia pun mulai pasang aksi mengikuti langkah Sha menuju ke pantai. Tetapi dengan lebih dramatis, hanya dalam waktu 5 menit Bong pun sudah  menghilang dari pandangan kami. Ya, dia telah berhasil berguling-guling manja diatas pasir, berenang, menyelam dan menghilang. Sampai-sampai membuat panik sang kakak tercinta yang ketika waktu makan sudah tiba, tetapi Bong belum juga kembali pulang.
***
Perbincangan hangat kami siang itu..
“Di tempatnya sha sama bong gak ada air kali yah
” Rendy memulai pembicaraan
“Mungkin ini pertama kalinya mereka main ke pantai” Kata saya menimpali
“Hebat ya, tahan bgt panas-panasan gitu”
Yuni ikut berkomentar
Tanpa diduga Rendy pun menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang menjadi soundtrack  sebuah program acara anak di televisi,
Bolang si bolang.. Si bocah petualang…
Kuat kakinya sperti kaki kijang hap hap, hap hap hap….

Terbanglah kau bolang.. Larilah kau bolang..
Bersenanglah kau bolang.. Bocah-bocah petualang…

::: Teriakan khas ShaBong “Fotoin gue dong” itu dengan cepat berubah menjadi,
“Ada air dingin gak? Siramin badan  gue dong”.
Hmm.. ya, kulit mereka benar-benar telah terbakar dengan sempurna, sudah matang.
Tapi Sha tetap cantik kok dengan kulit belangnya, si Bong juga tetap serem dengan gaya rambut punk nya. hahaha…
Miss  you guys.. : )

—————————————————

The Failure Of The Magic Trick..
(Kegagalan sebuah trik sulap)

Malam harinya saya memutuskan untuk pergi keluar menggunakan sepeda yang terdapat di homestay karena berniat ingin makan malam di warung bu Ester, sebuah warung makan yang lokasinya sangat strategis, karena berada tepat bersebelahan dengan alun-alun dan juga sangat berdekatan dengan dermaga yang menjadi starting point untuk melakukan wisata laut.
Mengayuh sepeda menuju warung Bu Ester, saya pun melihat dermaga kecil itu. Yang ketika dipagi hari ramai oleh kerumunan manusia yang hendak berwisata laut, tetapi malam itu keadaanya sungguh berbanding terbalik. Tampak begitu sepi, hanya ada beberapa orang anak yang tampak tengah bermain sepeda di sana. Tujuh orang anak sekolah dasar yang masih asik terjaga di dermaga.
Saya pun berbelok mengarahkan sepeda saya  ke dermaga tersebut.
“Balapan sepeda yuk”
Tantang saya kepada anak-anak itu begitu sampai di hadapan mereka.
Awalnya mereka tertawa, tetapi kemudian menyanggupi tantangan iseng saya itu.
Lelah bermain sepeda, kami pun memilih untuk duduk mengobrol dan tertawa-tawa disalah satu sudut dermaga. Hingga akhirnya, obrolan kami berujung pada permintaan saya kepada mereka. Ya, saya meminta sebuah koin dengan menjanjikan sebuah pertunjukkan sulap yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Sebuah koin 500 rupiah sudah berada ditangan saya. Mari kita mulai..
“Ayo semua berdiri di depan kakak, jgn deket2 ya.. diem disana aja”
Layaknya prajurit yang menuruti perintah komandannya, anak-anak itu pun langsung berjejer dengan rapi tepat di hadapan saya.
“Oke.. belum pernah liat orang ngilangin koin kan? Nah sekarang kakak mau ngilangin koin ini.”
Kata saya dengan penuh percaya diri sembari memamerkan koin itu pada mereka.
Acara sulap dimulai. Bak seorang pesulap handal, saya pun memulai atraksi saya menghilangkan koin tersebut.
“Perhatikan baik-baik ya… hmm.. hmm… Hilang..!!!” Saya berseru penuh semangat, ketika koin itu pun dengan sukses telah menghilang dari tangan saya.
Hingga tiba-tiba,
“Cling..cling..cling…” koin pun terjatuh dari punggung tangan saya. Tempat yang seharusnya menjadi persembunyian  paling aman bagi si koin.
Dengan wajah yang sungguh polos, salah  satu dari mereka pun bertanya  kepada anak-anak yang lain.
” Lho kok koine tibho?”
(lho kok koinnya jatuh)
Dengan ekspresi wajah yang datar, anak-anak yang lain pun hanya mengangkat bahu mereka. Kemudian saling berpandangan.
Melihat itu, saya pun cekikian sendiri seperti orang yang sudah putus urat ketawanya. Sungguh lucu ketika mengetahui bahwa mereka tidak sadar kalau sulap yang saya mainkan  sudah gatot alias gagal total.
“Nah.. sekarang kakak ulang sekali lagi yah.. liat  bener-bener”
Memulai sulap dari awal, tetapi kemudian koinnya jatuh lagi.
Masih sama seperti tadi, mereka pun saling berpandangan tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Saya pun duduk di dermaga itu sambil terus tertawa lepas.. benar-benar sakit perut dibuat oleh mereka.
Ketika sedang mengatur nafas karena lelah tertawa, tiba-tiba salah satu dari mereka mendekati saya.
“Kak.. koin saya yang tadi mana?”
tanya  salah seorang dari mereka
“Hah?!? Aduh, koinnya tadi ngga’ sengaja jatuh ke laut”
jawab saya spontan
Karena memang koin yang tadi sempat saya pakai untuk melakukan sulap itu sudah saya lempar jauh-jauh ke arah laut, dengan sekuat tenaga yang dimiliki tangan saya. Saya bahkan kurang paham apa yang membuat saya sampai harus melempar koin itu ke laut, yang jelas ketika tadi saya sedang tertawa lepas, saya dengan begitu saja melemparnya, karena koin itu sudah dua kali menggagalkan aksi sulap saya.
“Itu uang buat saya jajan kak” Lanjutnya. Tetapi kali ini dibarengi dengan wajah sedih, yang membuat saya merasa bersalah karena sudah membuang koin tersebut.
Merasa bersalah, saya pun menawarkan sesuatu kepada Danar, bocah polos  pemilik koin 500 perak itu.

…10  menit kemudian…
Kami, saya beserta keenam anak yang lainnya duduk dibawah sebuah lampu penerangan, disalah satu sudut dermaga. Danar berdiri di depan kami, sedang mempraktekkan sulap yang tadi gagal saya tampilkan.
“plok… plok… plok…plok…”

Anak-anak yang lain pun bertepuk tangan, dan terheran-heran melihat sulap yang berhasil dengan baik dilakukan oleh Danar. Kemudian layaknya seorang bocah, mereka pun berebutan minta diajarkan trik melakukan sulap tersebut  kepada Danar.
***
Oh ya, tadi saya sempat menawarkan kepada Danar, bahwa saya akan mengajarkan trik sulap tersebut kepada dia. Saya menjanjikan uang 10 ribu untuk mengganti koin 500 perak kepunyaannya, kalau dia bisa berhasil mempraktekkan sulap tersebut tanpa gagal di hadapan kami semua. Deal..!!!
———————————————————————————–

A Thousand Splendid Stars, in Karimunjawa’s night sky..
(Ribuan bintang yang indah, di langit malam Karimunjawa)

“Kak  kami pulang dulu ya, besok mau sekolah”
Berpisah  dengan anak-anak itu, saya pun lantas mengayuh sepeda saya menuju warung makan Bu Ester yang terletak tidak jauh dari dermaga. Ternyata disana sudah ada teman-teman saya yang mengesankan, sedang menyantap makan malam mereka. Siapa lagi kalau bukan Rendy, Yuni, Sha dan Bong. Saya pun bergegas mengambil nasi dan lauknya, lalu kemudian bergabung dengan mereka.
Selesai makan, saya pun memilih untuk duduk disebuah bangku yang terdapat di depan warung makan. Menikmati semilirnya sepoi-sepoi angin malam, sambil menikmati suasana malam alun-alun yang tepat berada di depan saya.
Ketika tengah asik menikmati semua itu, Yuni yang juga sudah selesai makan tiba-tiba ikut bergabung duduk di bangku yang saat itu sedang saya duduki.
“Eh ada Adit toh, aku pikir kamu  udah balik ke homestay tadi”
Suasana malam itu benar-benar terasa hidup. Ramainya pengunjung yang makan di warung bu Ester, ditambah  anak-anak muda warga lokal yang tampak sedang duduk mengobrol di tengah alun-alun, saya benar-benar mencintai suasana seperti itu. Ternyata Yuni pun merasakan hal serupa seperti apa yang saya rasakan. Maka ketika teman-teman yang lain memilih untuk beristirahat di homestay, kami lebih memilih untuk tetap berada disana. Mengobrol sambil menikmati kehidupan malam di alun-alun Karimunjawa, siapa yang tidak  akan rindu dengan suasana seperti ini.
Obrolan kami pun berlanjut beberapa saat sampai akhirnya saya melepaskan pernyataan,
“Pasti  enak tuh kalo tiduran  di alun-alun, trus ngeliat langit”

“Nah, itu dia yang dari tadi gue pikirin” sambung Yuni
“Haha.. coba yuk” tantang saya
Dan ternyata tanpa banyak pikir, Yuni pun langsung beranjak dari bangku dan berjalan menuju alun-alun. Saya sempat dibuat terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh perempuan ini.
Belum berhasil saya sampai di tempat Yuni sedang berdiri, dia pun langsung berbaring di tanah yang sebelumnya dia pijak. Dengan hanya beralaskan kedua tangan yang mengganjal kepala, sambil menatap tajam ke arah langit, Yuni terlihat begitu nyaman dan menikmati suasana malam itu. Dan saya pun hanya sanggup tertawa melihat aksi nekatnya.
“Gue suka gaya lo Yun..hahaha” Ujar saya sembari ikut merebahkan tubuh di atas tanah.
Malam itu tentu kami tak hanya diam menatap langit malam yang cerah. Kami mulai mengobrol tentang mimpi-mimpi kami, bercerita soal keluarga, berkelakar tentang cita-cita, tentang pengalaman backpacking yang pernah kami lakukan, bahkan mencoba membaca rasi bintang yang berpencar ramai di atas langit Karimunjawa.
Malam itu, langit yang gelap tampak menjadi begitu ramai dan megah karena bintang-bintang yang menghiasinya. Bintang-bintang yang dengan mandiri berpijar di langit malam Karimunjawa. Mereka tampak tidak khawatir dengan ukurannya yang hanya terlihat bagai titik kecil dari atas tanah ini. Begitu bersemangat bersinar, berkedip gemerlap dengan begitu mewah.
Sungguh di pulau ini, di Karimunjawa yang kecil ini, semua hal sederhana bisa terasa begitu luar biasa menyenangkan. Bahkan di alun-alun yang dipenuhi debu itu pun, saya bisa merasa seperti tengah merebahkan diri diatas tumpukan empuk rumput stadion bola yang megah.

Indonesia itu, bahkan mampu tetap Indah di tengah kegelapan.
Indonesia itu begitu indah, kawan. : )
Dan ini, Indonesia milik saya.. milik kita..!

———————————————————————————–

  1. akhirnya post jg! :D

    bikin pingin! >_<

  2. Haaa,
    Karimunjawa. Salah satu tempat yang pengen didatengin, tapi belum kesampaian sampe sekarang.
    Fotonya asyik, Mas. :D

  3. my fav adl part koin, bahagia sendiri gitu pas baca tengah malem lalu :) Hmmff.. Semoga target tahun depannya tercapai ya aditya! amin (selalu) untuk harapan-harapanmu.
    *hug

    • rreign
    • November 18th, 2011

    Hadeeeehh rupanya fr lengkap KarJaw ada disini toh, merasa agak difitnah yah perasaan setiap 10 langkah ga tercipta 6 foto deh Mr.Krum, 7 foto tau! hahaa… Tenang aja dr ratusan foto yg ketangkep kamera, paling cuma belasan foto yg masuk sosial media :p laut KarJaw itu indah banget gan jadi saya ga mungkin bisa lepas dr lautnya, rela deh dapet sunburn tapi puas berendam berjam” menikmati KarJaw yg luar biasa.. Oh ya satu lagi, you got you’re talent in writing buddy your trip journal is the proof

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: