Lost in Karimunjawa || -For the Best Sunset in Karimunjawa-

Mungkin ini adalah jawaban atas doa yang dahulu pernah saya sampaikan kepada Tuhan. Ya, ketika dulu saya masih dimasa observasi mengenai pulau Karimunjawa, saya mengirimkan begitu banyak penawaran kepada teman maupun orang-orang yang saya kenal melalui forum pecinta jalan-jalan di internet. Mengajak mereka untuk berbagi biaya sewa kapal, homestay bahkan menjelajahi Karimunjawa bersama.
Beberapa diantara mereka yang saya kirimi penawaran itu membalas dengan meminta rincian soal biaya, tempat apa saja yang bisa dikunjungi, jadwal kegiatan, transportasi dan juga soal keamanan. Saya pun mencoba menjawab rasa penasaran mereka dengan berbekal informasi yang saya dapatkan dari observasi mandiri saya.
Tetapi alangkah terkejutnya saya ketika membaca balasan dari mereka yang mempertanyakan apakah saya bisa bertanggung jawab mengenai apa yang saya tuliskan itu, dan bagaimana jika tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, atau bagaimana bila nanti terjadi hal yang tidak diinginkan atau mungkin bahkan sampai tersesat. Ya, mereka menuntut sebuah pertanggungjawaban dari saya. Oh, come on..
Jujur saja saya begitu kecewa ketika membacanya. Bagaimana tidak, mereka yang sejak awal berniat untuk menjadi seorang backpacker, mengapa harus takut akan hal-hal yang demikian. Toh, kita bukanlah anak kecil lagi. Saya yakin, kita sudah bisa bertanggung jawab atas diri kita sendiri disaat melakukan perjalanan sendirian.
Saya pun mencoba membalas tanggapan mereka, maka saya kirimkan sebuah balasan,
“Maaf, saya bukan travelagent yang bisa memastikan dan bertanggung jawab soal ketepatan jadwal dan rencana. Saya pun bukan Tuhan, yang bisa memastikan bahwa kita semua akan selamat sampai ke tempat tujuan. Lagi pula, kenapa kita perlu mengkhawatirkan hal-hal yang demikian? Mengapa kita perlu takut tersesat? Bukankah tersesat berarti jalan-jalan? Bukankah tersesat berarti kita melakukan sebuah perjalanan dan mendapatkan sebuah pengalaman? Untuk kalian ketahui, bahwa di pulau sekecil Karimunjawa itu pun saya masih menyempatkan diri untuk berdoa kepada Tuhan agar bisa tersesat disana”.

———————————————————————————–

Pak Muh… the Native!

Senin, 07.00 wib – Hari ke-3 di Karimunjawa
Hari masih pagi sekali ketika teman-teman saya yang mengesankan sudah bersiap untuk berangkat pergi berwisata laut (lagi). Saya yang memang tidak terikat dengan paket tur, dan dihari sebelumnya sudah merasakan keindahan alam laut Karimunjawa, memutuskan untuk tidak ikut bergabung dengan mereka. Ya, hari itu saya lebih memilih untuk menjelajahi dan memotret daratan pulau utama Karimunjawa, yang saya yakin keindahannya tidak akan kalah dengan pesona alam laut yang dimiliki oleh pulau itu.

Tepat pukul 09.00 wib pagi hari, saya keluar menggunakan sepeda yang tersedia di homestay. Karena berniat ingin memulai aktivitas hari itu dengan memotret suasana pelabuhan di pagi hari, maka saya pun mengayuh sepeda dan mengarahkannya menuju dermaga utama Karimunjawa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari homestay tempat saya menginap, tetapi juga tidak bisa dibilang dekat.
Jalanan di pulau Karimunjawa tidak terlalu besar, hanya terdiri dari 1 ruas jalan yang diapit oleh rumah-rumah penduduk di kedua sisinya. Sebuah jalan yang memang khusus diperuntukkan bagi sebuah perkampungan. Sebenarnya bersepeda di pulau ini benar-benar menyenangkan, tetapi itu apabila dilakukan disore dan dimalam hari, dengan  tujuan menuju warung makan Bu Ester, atau sekedar untuk keliling alun-alun. Tetapi andaikan itu dilakukan dipagi hari atau bahkan disiang hari, maka sensasinya pun akan terasa sungguh berbeda. Trust me Buddy..
Maka belum sampai separuh perjalanan menuju pelabuhan, keringat pun sudah mengucur deras membasahi kaos yang saya kenakan.
“Ini gila, panasanya benar-benar gila!”
teriak batin saya
Berkali-kali saya terpaksa harus mengelap keringat yang membasahi dahi dan turun mengenai mata saya. Panasnya sungguh tidak masuk akal! Benar-benar tidak masuk akal. Tidak jarang saya melihat ekspresi beberapa penduduk lokal yang sedang bersantai di teras depan rumahnya, seperti terheran melihat saya yang begitu bersemangat menggenjot sepeda di tengah teriknya matahari pagi itu.

Di tengah perjalanan, saya melihat seorang bapak paruh baya yang sedang asik memperbaiki pancing miliknya di dalam pekarangan rumah. Karena tertarik, saya pun mendekati kemudian menyapa bapak itu.
“Di sini kok panas sekali ya Pak?”
Dengan agak terkejut bapak itu pun kemudian membalas sapaan saya,
“Oh iya mas, namanya juga dikelilingi lautan”.

Memang benar, secara geografis pulau Karimunjawa memang dikelilingi oleh lautan, jadi wajar saja kalau terasa sangat panas sekali. Sebagai perbandingan, pukul 9 pagi disana, bisa menyamai panasnya Palembang pada pukul 12.00 wib di siang hari. Alangkah cepatnya suasana pagi berlalu dipulau ini.

“Kalo jam 9 pagi saja panasnya bisa seperti jam 12 siang, gimana rasanya panas pada jam 12  siang di pulau ini ya Pak?” Sebuah pertanyaan konyol pun keluar dari mulut saya. Yang saking konyolnya membuat si bapak lebih memilih untuk tertawa daripada harus berfikir dan menjelaskan jawabannya kepada saya.
***
Pak Muh namanya, lelaki paruh baya yang hampir seumur hidupnya dihabiskan di pulau kecil Karimunjawa itu berprofesi sebagai nelayan. Maka wajar saja kalau pak Muh sudah mengenal betul tentang seluk-beluk pulau Karimun jawa. Bahkan jenis-jenis ikan yang hidup di perairan karimunjawa pun dia hapal betul jenis-jenisnya. Dari pak Muh saya mengetahui, bahwa hanya dengan 2 jam mengendarai motor, maka kita sudah bisa menjelajahi pulau Karimunjawa ini sampai ke bagian paling ujung. Dan di ujungnya sana, ada berbagai tempat menarik yang bagus untuk dikunjungi. Seperti kampung Bugis, trekking mangrove, dan bahkan ada sebuah air terjun di sana. Dari pak Muh pula saya mengetahui bahwa pantai Tanjung Gelam ternyata bisa dikunjungi melalui jalan darat. Sebuah pantai yang indah, yang dihari sebelumnya sudah pernah saya kunjungi bersama teman-teman saya yang mengesankan ketika melakukan wisata laut.

Sebenarnya hanya kampung Bugis dan trekking mangrove yang menarik minat saya, karena untuk pantai Tanjung Gelam sendiri sudah pernah saya  datangi di hari sebelumnya.
Tetapi kemudian pikiran itu pun berubah ketika pak Muh mulai melanjutkan penjelasannya, bahwa spot sunset terbaik di Karimunjawa adalah di pantai Tanjung Gelam.
“Disana kan ada banyak pohon kelapa mas, jadi kalo buat foto sunset tuh bagus sekali”. Kata pak Muh menjelaskan
Saya pun berfikir, dan karena dihari sebelumnya saya dan teman-teman memang tidak sampai menunggu sunset di pantai Tanjung Gelam itu, maka pantai itu pun saya masukkan  ke dalam daftar tempat yang akan saya  kunjungi di sore hari itu.

Foto jalan utama di Karimunjawa

———————————————————————————–

The Adventure Begins…

Setengah empat sore, matahari terlihat sudah mulai sedikit bersahabat. Berbekal sebuah tripod dan kamera kesayangan, saya pun mengayuh sepeda menuju kerumah pak Muh. Seperti yang sudah kami sepakati sebelumnya, bahwa saya akan menggunakan motor pak Muh untuk menjelajahi pulau utama Karimunjawa itu. Mengunjungi kampung Bugis, trekking mangrove, dan diakhiri dengan menikmati sunset di pantai Tanjung Gelam.

Sesampainya di rumah pak Muh, ternyata bapak yang murah senyum ini tidak juga menyahut ketika saya panggil namanya dari depan rumah. Setelah mencoba mencari di sekeliling rumah, saya pun menemukan pak Muh sedang asik duduk di halaman belakang, mengobrol bersama seorang temannya. Namun ketika saya mengutarakan niat saya  untuk menyewa motor pak Muh seperti yang sudah kami perbincangkan sebelumnya, sungguh diluar perkiraan bahwa ternyata pak Muh sudah lupa dengan janji itu, dan motor satu-satunya yang dimiliki pak Muh itu pun sedang dipakai oleh anaknya untuk berkeliling pulau.

Tidak mau berkecil hati dan membuang waktu, maka saya pun langsung mengayuh sepeda melalui jalan yang sudah diarahkkan oleh pak Muh sebelumnya, yaitu jalan menuju keujung pulau, dan berharap akan menemukan sebuah homestay yang mau menyewakan motornya kepada saya. For your information, jalanan menuju keujung pulau tersebut benar-benar berbeda dengan jalanan utama Karimunjawa. Bila jalanan utama Karimunjawa diapit oleh rumah-rumah  penduduk dan mempunyai kesan yang sangat bersahabat, maka jalanan untuk menuju keujung pulau ini diapit oleh hutan semak belukar, yang memancarkan suasana sepi dan menyeramkan.

Terus mengayuh sepeda menuju ke ujung pulau, maka saya pun melihat sebuah area pekuburan yang cukup luas disisi kanan saya. Hati pun mulai ketar ketir dibuatnya. Bukan apa-apa, karena memang niat saya untuk menghabiskan sore hari itu dengan memotret matahari terbenam di pantai Tanjung Gelam, yang artinya saya akan pulang dari pantai itu paling tidak pukul 6 sore, maka sudah pasti saya akan kembali melintasi area pekuburan ini dalam perjalanan pulang pada malam hari. Tapi tak apalah, bisa dikebut langsung tanpa berhenti dengan menggunakan sepeda, kata pikiran  saya saat itu.
Perjalanan terus saya lanjutkan hingga akhirnya saya bertemu dengan sebuah homestay. Ada perasaan girang di hati karena kemungkinan akhirnya saya bisa meyewa sepeda motor di sana. Dengan cepat saya pun langsung membelokkan sepeda untuk berhenti di sana. Seorang ibu saya temui. Saya pun langsung bertanya apakah si ibu mempunyai motor untuk bisa saya sewa.
“Iya mas, ada sepeda motor. Biaya sewa seharinya 75ribu rupiah.”
Jawabnya lancar, seperti memang sudah terlatih.
“Hmm.. bisa kurang gak ya Bu’, kan saya pakenya cuma sebentar aja sampe jam 7. Sekarang kan sudah jam 4 sore, gimana kalau saya sewa Rp. 30ribu untuk 3 jam ke depan?”
Saya mencoba menawar harga secara adil untuk kedua belah pihak.
Ternyata saya kurang beruntung, karena si ibu yang cantik itu tetap tidak bergeming. Beliau tetap pada harga 75ribu seberapa pun sebentarnya motor itu saya sewa. Jiwa backpacker saya pun seperti berontak dibuatnya. Bagaimana mungkin tarif sewa motor selama 3 jam disamakan dengan tarif menyewa seharian. Kesal, saya pun akhirnya memutuskan untuk tidak jadi menyewanya dan memilih untuk melanjutkan menggenjot sepeda.

Tiga puluh menit mengayuh sepeda, jalanan yang saya lalui pun semakin sepi dan berubah mendaki. Tidak adanya kendaraan yang melintas di jalanan pada saat itu membuat saya berfikir ulang, apakah tetap akan melanjutkan perjalanan yang penuh dengan misteri itu, karena memang sama sekali buta arah dan tujuan, ataukah memilih untuk pulang ke homestay dan bersantai di kasur empuk dalam kamar. Terus berfikir tanpa sekalipun menghentikan kayuhan sepeda, saya pun semakin menjauhi pusat kota, dan menuju ke ujung pulau yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Ketika saya tersadar bahwa mungkin tidak akan ada homestay yang akan saya temui di sepanjang jalan itu, maka saya pun mulai berfikir realistis. Tidak mungkin saya  dapat mencapai kampung Bugis dan trekking mangrove kalau hanya mengandalkan sepeda sebelum malam hari. Maka dengan berat hati, saya pun memutuskan hanya akan mengunjungi pantai Tanjung Gelam untuk memotret sunset disana.

Saya bukanlah atlit balap sepeda, pun jarang sekali berolahraga. Maka mengayuh sepeda pada sore itu benar-benar berhasil membuat kaki saya kaku, dan otot paha terasa kejang. Tidak jarang saya pun terpaksa harus berjalan tertatih menuntun sepeda saya melalui jalan yang mendaki. Lebih dari berkali-kali hati saya kembali mengatakan untuk menghentikan kayuhan dan membelokkan arah sepeda untuk kembali menuju ke homestay. Tetapi setiap kali hati saya mengatakannya, kaki saya justru semakin cepat mengayuh, dan lengan saya pun seperti enggan bergerak. Entah mengapa saat itu tubuh dan hati saya selalu berseberangan. Akal sehat saya pun tidak bekerja dengan baik. Semua kemungkinan buruk yang coba mereka munculkan seakan lenyap di detik berikutnya. Saat itu hati saya hanya meyakini sebuah kalimat yang pernah saya baca, “Tuhan selalu bersama orang-orang yang berani”.
Maka seberapa besar pun keraguan yang muncul pada saat itu, bahkan tidak mampu membuat saya membalikkan arah sepeda untuk kembali menuju ke homestay.

Foto jalan menuju ke ujung pulau

***
Perjalanan terus saya lanjutkan, tanjakan yang saya temui pun semakin terjal. Capek bukan main tentu saja, tapi kalau saya berhenti, maka akan jadi sia-sia lah perjalanan yang sudah saya tempuh sejauh ini. Dengan berkeyakinan bahwa pasti nanti akan ada homestay lain yang saya temui di depan. Ini tidak akan jadi masalah besar, saya mungkin masih bisa menyewa motor di homestay selanjutnya.

Saya pun semakin jauh mengayuh, jalanan semakin sepi dan rumah penduduk semakin jarang, ditambah lagi dengan hari yang semakin menyore. Tentu akan sia-sia bila saya terlambat tiba di pantai dan tidak akan mendapatkan momen sunset terbaik yang saya inginkan. Semangat pun kembali muncul untuk memacu sepeda semakin cepat. Hingga semakin jauh jarak yang sudah saya tempuh dan menyadari bahwa sepertinya homestay tadi adalah homestay terakhir yang ada di sana. Itu berarti saya harus menerima nasib baik, bahwa saya harus bersepeda hingga ke pantai, yang bahkan saya belum tahu sampai berapa lama lagi saya baru bisa tiba disana.

Ketika akhirnya saya melihat beberapa rumah penduduk dalam perjalanan itu, maka saya pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada si pemilik rumah yang pada saat itu sedang berada di halaman depan rumah mereka. Menanyakan apakah jarak menuju ke pantai Tanjung Gelam masih jauh. Sungguh membuat ciut nyali ketika mendengar jawaban dari mereka semua yang mengatakan bahwa jarak untuk menuju pantai Tanjung Gelam masihlah jauh. Bahkan ada yang menjawab bahwa saya masih perlu waktu satu sampai dua jam lagi untuk bisa sampai di sana dengan menggunakan sepeda. Hal itu yang kerap memunculkan kembali pikiran pesimis di dalam otak dan membuat nyali saya menciut. Karena memang buta arah dan tidak tahu ujung dari perjalanan itu. Maka sepanjang perjalanan di sore itu pun saya terus berpikir bagaimana nanti cara saya akan pulang, bahkan ketika saya saja begitu kesulitan untuk bisa sampai di tujuan.

Saya pun tiba di sebuah jalan mendaki untuk yang kesekian kalinya. Memaksa saya harus turun dari sepeda dan menuntunnya bersamaan dengan langkah saya yang semakin tertatih. Dan ketika saya sampai di puncak tanjakkan itu, saya pun dapat melihat laut di sisi kiri saya. Ternyata dibagian sisi itu tidak terhalang oleh semak belukar, sehingga memungkinkan bagi saya untuk melihat laut yang memang mengililingi pulau Karimunjawa. Saya pun berhenti sejenak untuk beristirahat sembari menikmati pemandangan itu. Tetapi semakin saya menikmatinya, semakin jelas pula terlihat oleh saya bahwa di ujungnya terdapat puluhan perahu nelayan yang sedang bersandar. Ya, itu adalah dermaga tempat dimana kapal-kapal nelayan biasa bersandar, tempat yang juga biasa dijadikan sebagai starting point bagi orang-orang yang ingin pergi berwisata laut. Bahkan dari atas tanjakkan itu saya bisa melihat bangunan rumah di pusat kota. Ah.. ternyata saya sudah berjalan terlalu jauh.

Puncak tanjakkan dimana saya bisa melihat pusat kota dari atasnya

***
Pola perjalanan yang saya lalui selanjutnya masih sama seperti tadi. Tetapi semakin banyak saja tanjakan yang harus saya lewati. Sampai akhirnya saya bertemu dengan sebuah tanjakan yang cukup tinggi, yang mengharuskan saya untuk menuntun sepeda seperti biasa. Tetapi kali ini saya merasa begitu gembira ketika sampai di atas tanjakan itu, karena saya di hadapkan dengan jalan menurun yang tinggi dan lurus, yang membuat saya bisa dengan leluasa memacu sepeda dengan kencang.
Dengan perasaan gembira, saya pun menaiki sepeda untuk kemudian memacunya menuruni turunan itu. Sepanjang perjalanan sore itu, turunan adalah hal yang paling saya nantikan. Tentu saja itu karena dengan adanya turunan, berarti saya tidak perlu bersusah-payah mengayuh sepeda, dan hal menyenangkan lainnya adalah karena angin yang menampar-nampar muka saya ketika melalui turunan itu sungguh dapat membuat saya melupakan rasa lelah walaupun hanya sejenak.

Ketika berhasil melewati turunan dengan selamat, tiba-tiba saya menemukan pemandangan yang membahagiakan. Saya tidak menyangka bahwa saya akan menemukannya. Mata saya memeluk sebuah perkampungan penduduk di sini, lengkap dengan kantor desa dan sebuah lapangan yang ditumbuhi rumput hijau yang begitu menyenangkan untuk dilihat, bahkan ada beberapa anak yang tengah bermain bola di sana. Di depan lapangan itu juga terdapat beberapa rumah dan sebuah warung. Setelah sepanjang jalan tadi hanya melihat hutan dan semak belukar. Ya, akhirnya saya berhasil menemukan sebuah ‘kehidupan’!

Saya pun kembali memilih untuk bertanya kepada orang di sana, karena saat itu saya berkeyakinan bahwa pantai Tanjung Gelam pasti tidak akan jauh lagi untuk berhasil saya temukan. Saya pun bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan berada di pinggir jalan.
“Maaf Bu, Pantai Tanjung Gelam masih jauh ya? Benar lewat sini nggak ya bu?”
Untuk menjadi seorang petualang, kalian memang harus pintar-pintar berlaku sok akrab dengan orang lain. Tanggapan mereka yang entah akan baik atau buruk itu nomer sekian. Tetapi tidak boleh sekali pun berpikir untuk malu bertanya.
Sang ibu dengan mimik yang meyakinkan pun langsung menjawab,
“Wah mas salah, sudah kebablasan, seharusnya di jalan sana tadi masnya belok kiri.”
“Beneran Bu?”
Saya yang agak meragu, kembali mempertanyakan jawabannya.
“Iya mas, di ujung sana ngga ada apa-apa lagi. Ga ada pantai. Kalau pantai Ujung Gelam sudah lewat.”
Jawab si ibu lagi.
Saat mendengarnya saya sempat khawatir, tetapi saya ingat kata-kata pak Muh, bahwa saya hanya perlu mengikuti jalan utama dan saya pun akan sampai ke pantai Tanjung gelam. Pak Muh tidak mungkin salah, tapi saya bisa jadi salah arah. Tetapi bagaimana mungkin saya bisa salah arah kalau cuma ada satu jalan sepanjang jalan menuju ujung pulau itu.
“Pantai Tanjung Gelam kan bu, Bukan pantai Ujung Gelam?”
Saya kembali mencoba meyakinkan diri sendiri dengan bertanya kembali.
“Iya mas, sama saja. Di jalan sana, mas harusnya belok ke kiri.”
Si ibu mencoba meyakinkan sambil menunjuk jalan di belakang saya.
“Oh begitu ya, kalau begitu terima kasih ya bu.”
Saya pun memilih untuk tidak lagi membantahnya dan memutuskan untuk kembali berbalik arah.
Ketika sampai di belokan yang dimaksud, saya pun dihadapkan dengan sebuah jalan yang sangat jauh berbeda dengan jalan utama yang sejak tadi saya lewati. Jalanan itu hanya terdiri dari dua buah jalan kecil yang hanya muat untuk sepeda dan terbuat dari cor-coran semen yang kualitasnya begitu jelek. Lebih sempurna lagi bahwa jalanan itu baru saja dibuat oleh warga sekitar. Di sana bahkan masih ada 3 orang bapak-bapak yang sedang bekerja menyemen jalan itu. Dua jalan kecil yang di tengahnya dipisahkan oleh tanah. Kanan dan kiri jalan setapak dari semen itu adalah pepohonan kelapa. Saat itu tiba-tiba saya menyadari satu hal, betapa beruntungnya saya memutuskan untuk tidak jadi menyewa motor di homestay tadi, karena itu pasti akan merepotkan diri saya sendiri, ketika nyatanya jalan untuk menuju ke pantai Tanjung Gelam sangatlah sulit untuk bisa dilewati dengan menggunakan motor. Tuhan, memang selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. There’s always a reason, for everything that happens.

Jalan menuju ke pantai Tanjung Gelam

———————————————————————————–

Lost in Karimunjawa…

“Maaf pak, ini benar jalan yang ke arah pantai Tanjung Gelam kan ya?” Saya bertanya kepada salah satu bapak yang tengah membangun jalan bersemen itu, untuk memastikan bahwa itu adalah jalan yang benar untuk saya lalui.
“Bener mas. Jalan saja terus masuk ke dalam.”
Jawabnya meyakinkan.
Lalu tanpa berlama-lama saya pun memutuskan untuk terus memasuki jalan itu. Mau bagaimana lagi, memangnya ada pilihan lain. Kembali? Sudah tidak ada jalan untuk kembali, itu akan menjadi keputusan yang lebih bodoh daripada keputusan untuk  melanjutkan perjalanan. Maka saya pun menetapkan hati untuk masuk lebih dalam lagi melalui jalan itu.
Karena itu adalah jalan baru, maka beberapa bagian pun tampak belum begitu kering dan bahkan masih terputus-putus. Itu memaksa saya harus memanggul sepeda untuk bisa melewati jalanan tersebut. Hingga sampai ke bagian jalan yang sudah siap untuk dilewati, saya pun akhirnya bisa menaiki sepeda saya kembali. Jalanan itu sebenarnya tidak terlalu buruk, tetapi tidak juga bisa dikatakan nyaman untuk dilewati, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa kondisi sepeda saya yang tidak fit 100%.

Semakin jauh masuk melewati jalan setapak itu pun membuat saya semakin khawatir. Jelas saja karena kondisi sekitar yang semakin gelap, hawa yang lembab, dan fakta bahwa saya hanya seorang diri disana. Matahari yang pada saat itu berada tepat di depan saya  bahkan sudah terlihat mulai tenggelam di kejauhan, dan sinar oranyenya yang memancar di sela-sela dahan pohon kelapa membuat hati saya semakin risau. Bagaimana bila nanti saya terlambat sampai ke pantai. Maka begitu saya menemukan rumah penduduk, saya pun memutuskan untuk bertanya lagi.
Seorang ibu dan anak gadisnya tengah berada di belakang rumah mereka.
“Maaf  bu, saya mau tanya. Kalau arah ke pantai Tanjung Gelam itu kemana ya bu? Benar ke arah sini bukan ya?”
Masih dengan isi pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan yang sebelumnya.
“Oh pantai Tanjung Gelam. Bener mas, jalan saja terus. Nanti di depan ada tanjakan tinggi, terus ada belokan ke kanan. Nah masnya belok saja disana, jalan terus nanti ketemu kok pantainya.”
Jawab si ibu.
Saya langsung yakin bahwa si ibu tidak mungkin salah. Saya pun termotivasi untuk cepat sampai, karena saya yakin ini pasti tidak akan jauh lagi. Pantainya pasti akan segera saya temukan.

Merasa semakin dekat, entah mengapa membuat saya semakin berpikir keras tentang bagaimana caranya saya bisa pulang nanti. Melewati pepohonan kelapa yang rindang dan sepi, mempertanyakan keberanian diri saya sendiri untuk melewatinya dikegelapan malam dalam perjalanan pulang nantinya. Tetapi semakin saya dipusingkan dengan pikiran bagaimana cara untuk pulang, saya justru semakin cepat mengayuh pedal sepeda. Terus memacunya sampai akhirnya bertemu dengan sebuah tanjakan yang cukup panjang.
“Mungkin inilah tanjakan yang dimaksud oleh si ibu tadi” batin hati saya.
Saya pun terus mengayuh sepeda melaluinya. Lucunya, sekarang keringat saya bahkan sudah berhenti mengalir, kaki saya sudah mulai terbiasa, saya bahkan berhasil melewati tanjakan itu dengan terus menaiki sepeda. Tidak lagi perlu turun dan menuntunnya. Dan ketika sampai di puncak tanjakan, saya begitu bahagia bisa melihat ujung dari jalan setapak bersemen itu. Akhirnya saya dapat melihat ujung jalannya! Saya pun melepas rem dan menuruni tanjakan itu dengan kecepatan tinggi,
“Wohoooo!!!”
Saya berteriak begitu keras, mengespresikan kegirangan saya. Tanpa merasa khawatir akan ada orang yang menganggap saya gila karena berteriak begitu keras, karena memang di kanan dan kiri saya hanyalah hutan, tidak mungkin ada orang yang mendengar.
Di ujung jalan itu saya bahkan menemukan sebuah pantai. Saya pun kemudian bergegas mengeluarkan kamera dan mencoba mengambil beberapa gambar. Tapi pantai itu jelas bukanlah pantai Tanjung Gelam yang saya tuju dan sempat saya sambangi di sore hari sebelumnya bersama teman-teman saya yang lain. Saya pun kemudian teringat kembali pada belokan yang sempat ibu tadi katakan.
“Di sebelah mana belokannya ya?”
Batin saya.
Hari sudah terlalu sore, saya pun kembali mengambil sepeda dan menaiki turunan yang baru saja tadi saya lewati dengan perasaan gembira. Saat itu sudah mulai terdengar suara jangkrik dan hewan lain yang menandakan malam segera datang. Membuat saya kembali teringat soal cara bagaimana saya pulang. Tapi saya mencoba mengenyahkan pikiran itu dan berusaha berkonsentrasi mencari belokan yang dimaksud oleh si ibu.

Jalan yang menanjak menuju ke pantai Tt. Gelam

***
Akhirnya saya sudah berada di depan sebuah belokan yang saya yakini bahwa itu adalah belokan yang dimaksud oleh ibu tadi. Tetapi alangkah terkejutnya saya pada saat itu, karena sekarang yang nyata tampak ada di hadapan saya adalah sebuah jalan yang bahkan sudah tertutup oleh pepohonan kecil di sekitarnya. Ketika saya mencoba untuk menyibak daun-daun itu, saya memang jelas melihat ada sebuah jalan disana.
“Apakah benar jalan ini akan mengantarkan saya sampai ke pantai?”
“Kalaupun memang benar ini jalannya, bagaimana bisa kondisinya separah ini?”
Hati saya pun mulai bimbang.

Tadi seperti yang kalian ketahui, bahwa saya sudah melewati jalan setapak bersemen yang disekitarnya masih dapat saya jumpai beberapa rumah penduduk, walaupun dengan frekuensi yang sangat jarang bukan kepalang. Tetapi yang sekarang ada di hadapan saya, benar-benar jauh diluar dugaan. Sebuah jalan tanah yang sempit dan diapit oleh semak belukar di kedua sisinya. Cukup lama saya berdiam diri di depan jalan kecil itu, terus berpikir berulang-ulang. Mempertanyakan keberanian saya untuk melaluinya. Apakah saya cukup berani untuk melewati jalan itu, bagaimana bila nanti ternyata itu adalah jalan yang salah dan justru membuat saya tersesat jauh semakin dalam.

Saya memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dan mengetik sebuah pesan pendek yang kemudian saya kirimkan kepada mas Alfian, pemilik homestay tempat saya menginap.
“Mas Alfian, saya pergi ke pantai tanjung gelam naik sepeda. Kalau sampai jam 9 malam saya belum pulang, tolong saya disusul ya”.

Bersamaan dengan terkirimnya pesan itu, saya pun menguatkan hati untuk mengayuh pedal sepeda dan memasuki jalan kecil itu. Lagi-lagi hati saya berkata,
“Tuhan selalu bersama orang-orang yang berani”

Baru dapat satu kayuhan, saya pun kembali menengok kebelakang dan langsung berpikir bahwa saya benar-benar sudah gila karena memutuskan untuk masuk kedalam hutan ini. Karena kalau sampai terjadi apa-apa pada diri saya, pasti tidak akan ada orang yang tahu.
Semakin saya masuk lebih jauh, yang saya temukan hanyalah hutan dan jalan tanah single track yang konturnya sudah berubah menjadi tidak rata. Sepeda yang saya gunakan pun tidak kalah menyulitkan, karena apabila saya rem roda belakangnya, dia tidak mau berhenti dan tetap akan berjalan seperti terseret-seret. Tetapi apabila saya rem roda bagian depannya, maka roda belakang pun akan terangkat keatas. Itu yang membuat saya biasanya lebih memilih untuk mengerem dengan menggunakan kaki daripada menggunakan rem sepeda itu sendiri.
Saya menyusuri jalan itu, jangan tanya bagaimana kondisi sekeliling pada saat itu, jelas saja menakutkan. Saya tidak menampik bahwa saya memang beberapa kali merasa takut dan khawatir. Apalagi ketika mulai terdengar suara binatang yang hanya berbunyi ketika malam datang. Setelah cukup lama saya memacu sepeda, dan kemudian memilih untuk menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa saya sudah terlalu jauh untuk kembali. Tetapi saya tahu, ketika saya pernah pergi, maka saya pun akan pernah sampai. Akan sampai ke tempat yang saya tuju.

Jalan tanah menuju ke pantai Tanjung Gelam

Hingga pada akhirnya saya mendengar suara kapal dari kejauhan. Ya, saya mendengar suara kapal! Itu berarti saya sudah dekat dengan pantai. Tidak berapa lama kemudian, saya pun menemukan sebuah jalan yang kemarin sore sempat saya lewati bersama dengan Sha dan Bong. Itu yang membuat saya yakin bahwa itu adalah benar pantai Tanjung Gelam yang saya tuju. Ya Tuhan, akhirnya saya sampai!
Ketika pada akhirnya saya dapat melihat rupa dari pantai tersebut, saya pun senang bukan kepalang. Ya benar, itu pantai Tanjung Gelam, pantai yang di hari sebelumnya sempat saya kunjungi bersama teman-teman saya, pantai yang sama. Bedanya sekarang adalah saya bisa melihat matahari yang mulai memerah di langitnya.
Saking senangnya pada saat itu, saya pun mencoba mengayuh sepeda sekuat tenaga di atas pasir. Ya, jelas sangat berat sekali rasanya, sudah tidak terhitung berapa jumlah rasa lelah ini bila dapat saya kalkulasikan. Saya pun tidak perduli seberapa beratnya pedal harus saya kayuh, saya terlalu bahagia detik itu!
Sekumpulan ibu penjual yang melihat saya keluar dari bagian dalam hutan pun langsung melemparkan padangan heran. Salah satu dari mereka sampai tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada saya.
“Sepedaan ya ke sininya mas?
Tanyanya nyaris tak percaya
“Iya, capek banget bu..”
Curhat saya.
“Iya jelas lah, kan jauh banget mas jaraknya.”
Si ibu gantian curhat.
“Banget bu! Hahaha.”

Detik itu saya menyadari kebodohan saya memang, bersepeda ke sana adalah sebuah kebodohan! Kebodohan yang memberi saya pengalaman baru, yang tidak akan mungkin pernah bisa saya lupakan sampai kapan pun.
“Ibu pulangnya gimana nanti dari sini?”
Saya langsung teringat lagi soal bagaimana cara saya agar bisa pulang. Pikiran yang mengusik saya disepanjang perjalanan konyol itu.
Bersepeda? Itu jelas pilihan terakhir. Setelah rute yang sudah saya lalui tadi, saya jelas tidak akan bisa kembali dengan sepeda.
“Saya naik motor mas. Motor saya loh ada di atas. Nanti bareng sama saya saja mas pulangnya.”
Jawabnya ramah dan dengan seketika mampu membuat saya merasa tenang.
Akhirnya saya pun bisa langsung melempar sepeda dan meninggalkannya begitu saja, berlari menuju ke tepi pantai dan menjatuhkan diri saya diatas pasir. Saya merebahkan diri sambil tertawa lepas di atas pasir pantai itu. Menertawakan kebodohan dan kenekatan saya hari itu. Menertawakan kebahagiaan saya detik itu. Puas. Saya puas sekali akhirnya bisa sampai!
———————————————————————————–

Sunset yang tertutup awan…

Saya melihat ada sebuah kapal yang merapat, berisi rombongan mahasiswa asal Jogjakarta yang sedang berlibur bersama ke Karimunjawa. Mereka datang ke pantai itu juga untuk mengabadikan momen matahari terbenam. You see guys, ternyata pak Muh memang tidak berbohong, Tanjung Gelam adalah spot sunset terbaik di karimunjawa. Lalu kemudian sebuah kapal lagi merapat, kali ini berisi wisatawan asing yang juga tengah mencoba memburu hal yang sama, Sunset!

Menyadari waktu yang sudah semakin gelap, saya pun dengan terburu-buru mencoba mengeluarkan kamera dari dalam tas. Saya melihat matahari bulat nan besar itu sudah mulai turun untuk bersembunyi, untuk kemudian muncul di belahan dunia yang lain untuk memberi pagi.
Walaupun ternyata begitu mengecewakan, karena ternyata semakin sang matahari tenggelam, maka semakin dia  tertutup awan. Awan pada sore hari itu memang begitu lebat muncul di langit. Sunset yang tidak sempurna. Saya bahkan sempat mendengar rombongan kapal yang merapat tadi pun melepaskan keluhannya. Yah, saya pikir, kalau mereka yang berperahu saja bisa kecewa, apalagi saya yang bersepeda!

Sempat kehilangan semangat untuk memotret beberapa saat, tetapi akhirnya saya pun memutuskan untuk terus memotret sebanyak mungkin. Saya sudah sampai di sini, yang saya cari ada di hadapan saya, maka alasan apa pun tidak akan menjadi pantas untuk menghentikan niat awal saya. I didn’t go that far for nothing! Saya mencoba meyakini satu hal, bahwa dari sekian banyak foto sunset yang saya hasilkan pada sore itu, pasti akan ada satu foto yang paling baik, yang akhirnya pantas disebut sebagai potret yang indah.
***
Selesai memotret, yang kemudian langsung muncul di pikiran saya adalah lagi-lagi soal bagaimana cara saya untuk pulang. Saya pun memutuskan untuk mencoba menghampiri salah satu mahasiswa dari kapal yang tadi merapat, siapa tahu saya bisa menumpang kapal mereka. Tentu itu akan lebih baik dan nyaman ketimbang harus merepotkan si ibu penjual tadi dengan menumpang naik motornya.
“Mas, saya ini tinggal di homestay dekat pelabuhan, dekat dengan alun-alun. Saya ke sini naik sepeda dan ternyata jauh banget. Saya ngga bisa pulang naik sepeda lagi, kira-kira saya bisa ikut menumpang pulang di kapalnya ngga ya?”
Saya memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Oh gitu, bisa sih mas kayaknya. Ayo saya anter nemuin yang punya kapal saja untuk ngomong langsung.”
Ternyata mahasiswa itu pun menanggapi saya dengan sangat ramah dan mengantarkan saya bertemu dengan si pemilik kapal.
Setelah mengutarakan maksud saya kepada si pemilik kapal, ternyata pemilik kapal yang baik hati itu pun memperbolehkan saya untuk menumpang pulang. Yiiihaa!
Bahkan si pemilik kapal tersebut yang menaikkan sepeda saya ke atas kapalnya, dan saya pun bisa kembali pulang ke homestay dengan aman dan nyaman.
See Buddy, nyatanya, Tuhan memang selalu bersama orang-orang yang berani!

Dan saya sudah berhasil membuktikannya!

Menumpang pulang || Sepeda yang dinaikkan keatas perahu

———————————————————————————–

Finally, Homestay.. I’m coming!

Pukul 20.00 wib, malam hari..
Turun dari kapal, saya merasa senang bukan kepalang. Mengayuh sepeda kembali menuju homestay dengan penuh semangat. Melewati perkampungan dan ternyata bertemu dengan Armin yang baru saja selesai makan malam di salah satu warung nasi goreng.
“Arminnn.. oiii..!!!”
Saya berteriak nyaris histeris ke arahnya. Begitu lega akhirnya bisa bertemu lagi dengan teman satu homestay saya itu, hahaha..
Saya sudah resmi pulang. Pulang! Hal yang sepanjang hari itu saya pikir mustahil saya dapati dengan jalan seperti tadi.
“Dit, where are u? Anak2 udah siap untuk makan malam.” Sebuah sms dari Yuni masuk ke ponsel tepat ketika saya sedang memarkirkan sepeda di depan homestay.
Sekitar pukul 8 malam saya akhirnya sampai. Lelah memang, tetapi begitu puas.
Kalau saya tidak memutuskan untuk terus memacu sepeda, mungkin hari itu saya tidak akan tersesat dan mempunyai cerita yang bisa saya tuliskan untuk kalian semua hari ini.
***
Saat itu adalah waktu dimana saya teringat akan doa kecil saya sebelum berangkat ke pulau indah bernama Karimunjawa. Tuhan mengabulkan doa saya untuk bisa tersesat di sana. Dan tidak ada yang salah dengan tersesat, ketika kamu mau terus berusaha untuk menemukan jalan keluar. Mendapati perjalanan yang mengajarkan banyak sekali hal baru. Salah satunya adalah, perjuangan untuk menemukan dan meraih tujuanmu.

Jadi, jangan pernah takut untuk tersesat. Karena walau disaat itu kamu merasa akan kehilangan banyak hal, tetapi disaat yang sama kamu justru akan mendapat lebih dari yang kamu harapkan sebelumnya..

———————————————————————————–

“Sunset yang tertutup awan” Ini bukanlah foto sunset terbaik, tetapi setiap kali saya melihatnya, terbayang di benak saya perjuangan untuk mendapatkannya. Mengalahkan hati yang berkali-kali membujuk untuk menyerah, membunuh rasa takut yang setiap saat datang menyergap, bahkan mengabaikan otot-otot paha yang terasa mengejang. Memang selalu dibutuhkan sebuah perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan!

———————————————————————————–

  1. Fiuhh..
    Akhirnya selesai juga ya. Salah satu posting terbaik di blogmu dit bagiku. Bukan karena aku ikut andil di dalamnya, hanya seperti yg pernah aku bilang kemarin lalu, tulisanmu yg ini seperti hidup, kamu ada di dalamnya. Sehingga siapa pun yg membaca akan merasa menjadi dirimu.
    One day, kalau kita diberi umur dan kesempatan. Ingin sekali bisa backpacker bareng. Kamu yg motret dan aku yg nulis ceritanya.
    Hahahaha..
    That’s just a little dream.

    • Hahaha… ikut andil berpusing-pusing untuk merangkai kata yah.
      Terima kasih Fa, hahaha…

      Ps: Besok ketemu aku traktir! ^_*

  2. X_X
    cukup emosi juga membacanya!
    selamat!! :D

    • Membacanya aja bisa emosi, apalagi aku kemaren yang mengalaminya lus.
      Tegang sama ditambah paha yang udah kejang-kejang. hahahaha…

    • …..
    • November 27th, 2011

    aku suka dan aku menikmati alur cerita kamu bro”

  3. bravoo bro…ikut terhanyut k dlm petualangan loe
    (sm spt ktk gw bc tulisan” andrea hirata, 11-12 lah :p)

    mungkiinn, slh satu penyemangat loe itu krn sblm brangkat, seharian itu loe nyetel ‘insya Allah’ nya maher zain, hehehe
    *curcol-nya si teteh sapa itu namanya yg dr bdg, lupa gw

    jd ketika loe tsesat langsung bnyanyi lirih…

    insya Allah….. insya Allah…. insya Allah…

    ada jalaaaannnnnn…

    *pasangmukamelas

    lalu Tuhan pun tak tega

    :p

    • hahaha… andai si teteh tau kalo waktu itu gue lagi kepanasan bgt di dalam kamar karena listrik yang udah nyala padam selama 10x lebih sepanjang siang itu aja, otomatis gak ada kipas angin. Si teteh mah enak ada si akang. Lha gue cuma berteman laptop elu dan suara maher zain itu. hahaha..
      Satu lg.. dan laptop itu selalu ngingetin gue untuk sholat terus. hahaha… afufu..
      “Waktu Zuhur sudah lewat 15menit” kata si laptop ~.~!

  4. I really appreciate ur photo and story, it’s cool.
    I Hope inspired me…

    laen kali kito kenali Indonesia lebih dekat samo2 dit…
    Hehehhe

    • Siap mas Bob!
      Akan tiba saatnya ketika kita menjadi partner tangguh layaknya Lone Ranger dan Tonto. : )

  5. “Besok ketemu aku traktir” semacam aku buka pintu rumah langsung sampe ke palembang yah.. Hahaha.
    Buat aku menulis selalu menyenangkan, ketika bertemu yg mesti dicari jalan keluarnya, jadi semakin menyenangkan.
    Buku? Kamu bisa dit nulis buku one day, asal gak pake kata “malas”,
    Terus mentok langsung tlf si item yg di samigaluh.. :p

    Semangatlah sama mimpi-mimpimu, bisa bekerja dari hobi itu bukan hal yg mustahil, aku pernah membuktikannya, kamu pun pasti ‘akan pernah’ suatu hari nanti. Don’t know why, tapi aku yakin kamu bisa, masa tega biarin aku yakin sendirian :)

    • jovelislova
    • January 3rd, 2012

    waaooww…Two thumbs up mas !!

    maaf sebelumya, ikutan nimbrung,.,sy ngefans banget sm kepulauan karimunjawa ini.

    i’ve been there before, hampir persis got lost di ujung gelam (klo saya nyebutnya),.bedanya saya menyerah duluan sebelum sampe pantai dan pilih balik langkah kembali menuju hotel, dan apalagi pakai sepeda onthel,..SAlut banget !!. trus foto2 nya juga bagus,..

    Nice story – salam kenal

    • Hahaha.. memang jarak yang jauh bikin hati kita jadi ragu untuk terus sampai ke pantai. Kerasa bgt beratnya… : D

      Salam kenal kembali Jove.. : )

  6. tulisanmu itu loh kak, membuat siapapun yang mbaca ikut terhanyut ke dalamnya! you should be grateful for that! gift ini namanya, gak semua orang bisa melakukan magic melalui tulisan sederhana mengenai kisah petualangan!
    And now I’m officially pronounce myself as your admirer! :)

    • meri
    • June 9th, 2015

    keren bangettt, pingin backpacker juga….

  7. Baru mau ke Karimujawa nihh..exciting lihat foto sunset ada pohon kelapanya..

    Pernah juga tuh disalah2in dan di protes teman sharing cost waktu trip kebetulan teman expat dari China lagi hadeuhh..harus sabar..waktu lagi dia ngomel pas nunggu waiting list resto..lagi ngomel2 gt nama gw dipanggil dari urutan ke-6 langsung loncat ke atas dan boleh masuk resto..OMG berkah banget..

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: