Happy Mother’s Day.. Bunda.,

“Ucapin nggak yah.. ucapin nggak yah..”
Selalu saja hati saya bergejolak hebat setiap kali kalender di rumah saya menunjukkan angka 22 dan 12. Saya bingung harus mengatakan “Selamat hari ibu” atau tidak kepada Bunda. Hati saya selalu dilimuti oleh perasaan bimbang setiap kali 22 Desember itu datang.
Sama bimbangnya ketika di pagi yang cerah ini saya hendak keluar rumah, kemudian saya tatap wajah Bunda, saya bingung apakah harus mengucapkan “kata-kata” itu kepada Bunda atau tidak. Saya diam beberapa saat, kata-kata itu sepertinya sudah siap meluncur keluar dari mulut saya, tapi lidah saya kelu, akhirnya saya memilih untuk tidak mengatakannya.
***

Beberapa tahun yang lalu, disuatu siang pada tanggal yang sama, saya mengirimkan sebuah pesan pendek (SMS) kepada Bunda. Di pesan itu saya memberikan rangkaian kata-kata yang sangat indah kepada Bunda, dan saya akhiri dengan ucapan,
“Selamat hari ibu, Bunda. Sebuah kebahagiaan tak terkira bisa mempunyai ibu seperti Bunda. Adink sayang Bunda. Sayaaaang sekali.”

Siang itu Bunda sedang duduk di kursi kerjanya ketika pesan itu masuk kedalam ponselnya. Bunda merasa senang sekali mendapatkan kata-kata indah dari anak laki-laki bungsunya. Bunda tersenyum. Bunda merasa sangat terharu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba datang lagi sebuah pesan pendek masuk ke ponsel Bunda. Kali ini dari kakak perempuan saya yang pertama. Isinya sama, mengucapkan “Selamat hari ibu” kepada Bunda. Bunda pun semakin larut dalam haru pada hari itu. Bunda merasa diperhatikan oleh anak-anaknya. Bunda merasa bahagia..

Kemudian, karena ingin melakukan hal yang sama, maka Bunda pun mencoba mengetikkan sebuah kalimat ucapan “Selamat hari ibu” versi Bunda sendiri yang akan Bunda kirimkan kepada mbah putri, sosok ibu yang sangat Bunda kagumi. Bunda berfikir pasti mbah putri akan merasa senang sekali apabila mendapatkan kata-kata indah dari Bunda. Seorang anak perempuan yang berada jauh di pulau seberang, merantau jauh meninggalkan tanah kelahirannya demi mengikuti suami dan membangun keluarga baru.

Setelah bunda selesai mengetikkan kata-kata itu dan berniat untuk mengirimkannya, tiba-tiba Bunda terdiam. Bunda bingung. Mau dikirim kemana pesan ini? Mau dikirim dengan cara apa? Tiba-tiba Bunda teringat bahwa mbah putri, sosok wanita yang teramat Bunda cintai itu, wanita yang sudah mengandungnya selama 9 bulan dan menahan perih yang teramat sangat ketika melahirkannya, wanita itu sudah tiada sejak beberapa tahun silam. Ya, wanita lembut yang penuh dengan kasih sayang itu telah meninggalkan kami semua.
Bunda pun kemudian dilimuti oleh sebuah perasaan yang benar-benar membuat sesak dadanya. Bunda terdiam. Bunda tertunduk. Bunda pun kemudian menangis. Sendirian menangisi kerinduan akan sosok wanita yang paling dicintainya.
Sesampainya dirumah, Bunda bilang ini kepada kita,
“Bunda pengen sekali merasakan rasanya mengirimkan pesan dan mengucapkan Selamat hari ibu sama mbah putri, tapi nggak bisa.. dan Bunda jadi sedih”.

Nah, semenjak saat itulah maka saya berhenti memberikan ucapan “Selamat hari ibu” kepada Bunda. Saya tidak ingin Bunda menjadi sedih. Saya tidak ingin Bunda menangis lagi. Toh hari ibu tidak hanya ada pada tanggal 22 Desember saja, bukan?
***

Maunya saya sih mengucapkan kata-kata itu. Maunya saya itu memeluk erat Bunda. Maunya saya itu meminta maaf atas semua kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan, dan berjanji untuk menjadi anak yang lebih berbakti lagi. Tapi entah kenapa, sepertinya suliit sekali untuk melakukan semua itu. Seringkali ketika hati saya mengatakan ingin memeluk Bunda, tetapi tubuh saya hanya diam saja.

Ada ribuan “Maaf” yang terkunci rapat di bibir ini. Saya bahkan hafal satu persatu semua tingkah laku saya yang membuat Bunda menjadi sedih dan marah.
Maunya saya, Bunda dan saya itu duduk berdua, berdua saja. Kemudian saya sebutkan satu persatu semua kesalahan-kesalahan itu, dan meminta maaf semuanya kepada Bunda.

Tak terhingga kata cinta yang ingin saya utarakan kepada Bunda. Sejak saya kecil hingga saya dewasa. Banyak sekali kejutan-kejutan yang sudah Bunda berikan kepada saya.
“Bunda.. kamera pocket digital tante Chie itu berapa sih harganya?”
“Nggak tau. Kenapa? Adink mau kamera kah?” Tanya Bunda
Saat itu saya tidak berani untuk mengiyakan. Karena saya tau pasti bahwa harga sebuah kamera digital tentulah tidak cukup hanya dengan ratusan ribu saja. Ada angka Jutaan disana. Maka saya pun hanya diam saja.
Selang 1 bulan berikutnya, di bulan kelahiran saya. Saya bersama Ayah, Bunda, dan kakak perempuan saya, kami ber-empat pergi ke sebuah mall di kota ini. Kami masuk ke sebuah toko kamera. Dan Bunda pun membelikan saya sebuah kamera DSLR terbaru pada saat itu. Sebuah kamera DSLR yang belum genap satu bulan diluncurkan. Dan sudah berada di tangan saya. Saya itu cuma minta dibelikan kamera pocket saja sama Bunda. Tetapi malah mendapatkan sebuah DSLR dalam dekapan saya. Bahagia… sungguh bahagia.
“Ini hadiah ulang tahun buat Adink, dari Ayah sama Bunda. Selalu rajin sholat  yah”. -Bunda
***

Ayah dan Bunda itu sudah pernah pergi Umroh, bahkan sudah pernah berangkat Haji. Jadi sudah tidak ada lagi impian bagi saya sebagai seorang anak untuk memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci. Ayah dan Bunda itu sudah mempunyai rumah, tempat dimana kami semua tinggal. Walaupun kecil dan sederhana, tetapi itu rumah sendiri, dan sudah lebih dari cukup untuk sekedar bisa melindungi kami dari panas terik matahari dan hujan. Jadi tidak ada lagi impian bagi saya untuk membelikan AyahBunda sebuah rumah.
Impian saya sederhana saja. Bekerja, kemudian rutin mengirimkan AyahBunda sebagian uang dari hasil kerja saya. Berkeluarga, kemudian menghadiahkan mereka tambahan seorang cucu yang bertingkah lucu. Menjadi anak yang baik, yang sholeh, agar kelak dapat menjadi amal jariyah bagi Ayah dan Bunda. Itu saja. Amin..

“Tuhan.. andai ada sebuah kebaikan dalam diriku,
andaikan ada perbuatanku yang berganjar sebuah pahala,
maka aku serahkan semuanya untuk Ayahku, untuk Ibuku.
Tuhan.. Ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku,
Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”

  1. AMIN! (:

  2. Amiiiin…semoga kita menjadi anak yang bisa membahagiakan ayah dan bunda…
    Aduuh..jadi kangen mama.

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: