Choices: Hidup ini indah begini adanya

Saya sedang ingin bercerita, tapi saya bingung mau mulai darimana…

Intinya begini, pernahkah kalian mengalami semacam ada beban pikiran yang membuat sesak dada, dan rutin hadir setiap hari ketika kalian bangun tidur di pagi hari?
Rasa sesak yang tiba-tiba hadir dan memenuhi rongga dada, yang datang begitu cepat seketika kalian membuka mata. Horor.. untuk mengingat dan membayangkan bagaimana rasanya pun sungguh teramat mengerikan. Hahaha…

Apa itu sial? Sial adalah, karena setelah saya akhirnya dinyatakan lulus kuliah di bulan september tahun lalu, perasaan itulah yang selalu saya alami setiap pagi.
Mau tau apa yang membuat saya merasa sesak? Yep, bayangan akan masa depan!

Untuk saat ini saya memang sudah mempunyai gambaran jelas tentang pilihan yang akan saya ambil. Yaitu saya akan meneruskan kuliah saya, kemudian menjadi seorang notaris.
Tapi, sebelum tes masuk kuliah itu berlangsung, saat ini ada begitu banyak lowongan kerja yang dibuka. Bahkan ada beberapa kerabat saya yang sampai datang kerumah untuk menawarkan langsung kepada saya perihal lowongan kerja tersebut. Oke, hati saya pun mulai goyah. Tetapi hidup adalah tentang sebuah pilihan. Saya pun bersikeras lebih memilih untuk tetap akan melanjutkan kuliah saya dan menjadi seorang notaris!

Sekarang masalahnya adalah, bagaimana kalau ternyata itu adalah jalan yang diberikan oleh Allah, yaitu saya harus langsung bekerja dan bukannya meneruskan kuliah. Sementara saya tidak mengambilnya, dan bahkan malah keukeuh terus menolaknya.
Sederhananya begini, yang saya takutkan adalah bagaimana kalau nanti ternyata saya gagal ketika tes penerimaan masuk kuliah, sementara lowongan kerja itu sudah tertutup semua. Atau bagaimana kalau nantinya ketika saya sudah berhasil menjadi seorang notaris, tapi ternyata semua itu malah membuat hidup saya semakin menjadi ruwet dan semrawut, karena saya sudah salah dalam mengambil langkah. Iya, saya tau. Hidup itu memang sebuah pilihan, dan disetiap pilihan pasti terdapat segala resiko yang mengikutinya.

For your information, bahwa menjadi seorang notaris itu bukanlah impian saya. Akan tetapi saya merasa yakin, bahwa dengan menjadi seorang notaris, maka saya akan semakin dekat kepada mimpi-mimpi saya. Karena itulah saya bersikukuh untuk meneruskan kuliah lagi.
Saya mempunyai begitu banyak impian, bisa bekerja tanpa adanya tekanan dari atasan, bisa membahagiakan orang tua, mensejahterakan istri dan anak-anak saya, dan  tentu saja bisa jalan-jalan kemanapun yang saya suka.

Impian saya adalah masa depan saya. Masa depan saya adalah masa depan istri saya, adalah juga masa depan anak-anak saya. Makanya saya tidak mau setengah-setengah.
Saya ini pria. Pria itu yang menghidupi keluarga. Saya tidak bisa asal-asalan dalam merintis masa depan, karena saya tidak mau hidup keluarga saya nantinya juga asal-asalan.

Tapi apakah saya sudah benar dalam hal mengambil keputusan? Ataukah saya hanya mementingkan keegoisan pribadi semata dalam perburuan mengejar sebuah impian? Entahlah.. Tapi yang saya pikirkan adalah, bahwa ketika nanti saya bisa menjalani hidup sesuai impian saya, maka saya akan menjadi manusia yang penuh dengan rasa bahagia, penuh rasa syukur. Saya pernah membayangkan keadaan dimana diri saya yang menjalani sebuah pekerjaan yang tidak saya suka, pada akhirnya nanti setiap pulang kerja, yang ada hanyalah mengeluh, menggerutu, mengutuki diri. Alangkah tidak baiknya hidup seperti itu.

Saya ingin melakukan hal yang saya suka. Saya ingin meraih impian-impian saya.
Saya ingin menjadi notaris agar bisa lebih dekat dengan impian-impian itu.  Akan tetapi untuk menjadi seorang notaris tidaklah sesederhana itu. Ada masa kuliah dan tesisnya. Ada masa magang selama 2 tahun. Waktu yang  sungguh tidak singkat. Tapi, bukankah tidak ada hal yang instan di dunia ini? Apalagi dalam hal mengejar sebuah impian. Memang tidak mudah, tetapi kalau saya berani memimpikannya, saya pun yakin bisa meraihnya.

Tetapi lagi-lagi saya dipertemukan dengan sebuah pertanyaan.
Apakah dengan meneruskan kuliah dan menjadi seorang notaris adalah pilihan yang tepat? Andai saja saya mempunyai sebuah mesin waktu, maka saya bisa pergi melintasi waktu, kemudian mengetahui rahasia tentang masa depan saya. Dan apabila semuanya tidak berjalan sesuai rencana, saya pun bisa memperbaiknya mulai dari sekarang.

Tapi ah, semua itu sungguh tidaklah perlu. Untuk apa mesin waktu, bukankah hidup ini indah begini adanya? Hidup ini indah karena  adanya misteri-misteri di dalamnya.
Saat ini, yang harus saya lakukan adalah banyak berdoa dan juga terus belajar.

Ps: Kenapa saya menceritakan hal ini, karena besok adalah jadwal wawancara kerja sebuah bank terkemuka. Dan saya rasa, saya pun akan kembali melewatkannya.

    • ceritanya anonim
    • January 20th, 2012

    kak adit, aku pernah kerja di sebuah career center, dan itu benar2 menyadarkan aku, kalau lowongan pekerjaan itu buanyaaaaak banget diluar sana. mulai yg freelance, pegawai negeri, pegawai swasta perusahaan lokal, sampe MNC, tersedia buat para pencari kerja.

    masalahnya kan apakah kita bisa memenangkan diri dan menjadi lebih baik dari yang lain supaya kita diterima.

    dan itu kembali menyadarkan, apapun jurusan kita, apapun bidang usaha kita, kalau kita tekuni hasilnya akan bagus. sebaliknya, sebagus apapun jurusan kita, kalau kita ga niat, ya cuma jadi gitu aja.
    kalo kak adit sudah yakin dengan apa yang kak adit jalani, perjuangkanlah.

    aku quote dari blog mas nuran ya..
    “Umur 24, kalau udah tahu mau kemana, you should avoid that guy. Because he/she doesn’t know what life is. Most of them that I know, end up in a boring life.”

    kalau saya memilih untuk menjalani masa kini dg sebaik2nya, mengumpulkan ilmu sebanyak mungkin. krn akan ada saatnya memilih dan jika kita sudah siap, semua akan mudah.

    oke panjang banget ini. kalo di blogku udah jadi 1 postingan. lalala.

  1. Aku mengerti dengan baik apa yg tengah kau khawatirkan Uncle, tapi percayalah apa yg pada akhirnya terjadi adalah apa yg telah digariskan Allah SWT.
    Aku selalu percaya penuh pada mimpi-mimpi dan pilihanmu Uncle.
    Just do your best, and God will do the rest :)

    • dianamalia
    • January 20th, 2012

    Hidup memang penuh dengan pilihan. Maka sesulit apapun, mau tidak mau memang harus memilih. Dan pilihan hidup yang baik tentu tidak hanya semata agar menjadi manusia yang sukses, tapi juga bagaimana menjadi manusia yang bernilai.
    (tesis gw asli hlm.75) huehuehue

  2. I knew what you feel. Dulu gue juga ada di posisi yang sama. Sampai akhirnya pekerjaan yang ada di gue sekarang mengalahkan apa yang dinamakan passion. Yang penting jangan takut mencoba, meskipun harus dipikirkan dengan matang juga prospek ke depannya. Seperti yang lo bilang, pada akhirnya pekerjaan gue yang sekarang nantinya akan mendekatkan ke impian-impian gue.. *Cheers, cousin!*

    Eh, kangen traveling oi!

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: