Tentang Rokok dan Merokok

Surga bagi bisnis industri rokok!

Beberapa waktu lalu saya sempat menonton sebuah tayangan video, yang membahas tentang suburnya bisnis industri rokok di Indonesia. Video ini berdurasi sekitar 40 menit lebih, dan sudah dilengkapi dengan teks Bahasa Indonesia.
Ketika baru memasuki bandara Soekarno Hatta, si host tayangan tersebut mengatakan, bahwa ia seperti baru saja meluncur menggunakan mesin waktu, dan mundur ke masa Amerika jaman dahulu kala. Ya, jaman dimana ketika rokok masih sangat marak di Amerika. Di area Bandara Soekarno Hatta, si host melihat begitu banyak iklan rokok terpampang di segala sudut bandara. Dan ketika ia melewati jalanan di Jakarta, iklan rokok pun kembali banyak terlihat. Wow… Persis seperti Amerika dahulu kala!

Rokok bisa dengan mudahnya didapatkan disini, di negeri ini. Bahkan anak kecil pun bisa mendapatkan rokok hanya dengan bermodalkan seribu rupiah. Dunia menertawakan kita ketika ada bayi yang merokok puluhan batang rokok sehari. Indonesia, negeri ini benar-benar menjadi surga bagi mereka yang ingin menjalankan bisnis industri rokok!
————————–

Tentang bahaya dan sulitnya berhenti merokok!

Tak perlu saya tuliskan tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Tak perlu saya sebutkan satu per satu dari ratusan racun yang terkandung di dalam setiap satu batang rokok. Toh sebenarnya kita semua sudah sangat paham akan hal ini. Semua orang sudah tau akan bahaya merokok bagi kesehatan, namun masih saja tetap tidak mau berhenti melakukannya.
Seorang ayah yang perokok, akan berusaha keras agar anak laki-lakinya tidak mengikuti jejaknya yang merokok. Bukti bahwa sang ayah mengetahui bahwa rokok itu tidak baik bagi kesehatan, walaupun sang ayah masih juga terus menghisap batangan rokok setiap hari.

Berhenti merokok itu sulit, katanya. Dan mungkin saja iya. Tapi, ketika ada niat yang disertai dengan kebulatan tekad, maka saya rasa tidak ada hal yang tidak mungkin, bukan?
Saya punya pengalaman dengan hal ini. Ayah saya, sudah merokok semenjak kecil, sudah merokok selama 32 tahun. Rokok yang dihisap ayah saya pun bukan sembarang rokok, tapi rokok dengan asap tebal dan pekat yang mengepul hebat ketika dihembuskan. Ketika ayah saya merokok di ruang depan rumah, saya bisa mencium aroma asapnya hanya dari dapur.

Suatu ketika, ada tetangga saya yang meninggal karena terlalu banyak menghisap rokok.
Ya, asap rokok telah membuat paru-parunya berlubang sebesar ujung jari telunjuk. Entahlah, saya tak terlalu mengerti tentang penyakitnya, yang jelas beredar kabar bahwa ia meninggal karena rokok yang dicintainya itu, ternyata telah sukses membuat paru-parunya berhenti bekerja. Ayah saya, yang merasa ngeri ketika mendengar kabar tentang si tetangga itu pun kemudian memutuskan untuk berhenti merokok.

Orang bilang, kalau ingin berhenti merokok, maka kita harus perlahan-lahan mengurangi jumlah rokok yang kita konsumsi setiap hari. Tapi hal itu tidak berlaku bagi ayah saya.
Rasa takut akan mendapatkan nasib yang sama seperti si tetangga tadi, membuat ayah bersikeras untuk bisa segera berhenti merokok secepatnya.
Setelah menetapkan bahwa “besok” beliau tidak akan menyentuh rokok lagi, maka “hari ini” ayah pun memuaskan dirinya untuk menikmati candu tersebut. Satu hari penuh ayah saya merokok. Berbungkus-bungkus rokok dalam satu hari itu. “Hari terakhir untuk merokok!”

Esoknya, ayah konsisten pada niatnya untuk berhenti merokok.
Hari pertama, mulutnya terasa asam. Hari kedua, semakin bertambah asam.
Hari ketiga, ayah saya menderita demam. Hari ke-empat, demam dan menggigil.
Selama satu minggu ayah saya menderita demam disertai badan yang menggigil hebat.
Tapi setelahnya, ayah saya pun sudah bisa terbebas dari candu rokok, hingga sekarang.

Kalian tau kawan, dengan berhenti merokok ternyata memberikan efek nyata pada tubuh ayah saya. Tubuh yang dulunya terlihat kurus, sekarang kembali terlihat segar dan bugar. Berat tubuh ayah saya pun bertambah. Kalo ayah sering bilang sih, “orang yang merokok itu, tubuhnya seperti ikan yang diawetkan dengan cara pengasapan, kering!”
————————–

Mencegah anak untuk merokok, ala Prof. Dr. Emil Salim.

Merokok itu candu! Mereka yang sudah terbiasa merokok, akan sangat sulit bagi mereka bisa lepas dari ketergantungan akan candu rokok. Tidak perduli sesering apa kalian menasehati mereka, memberi tahu mereka tentang bahaya rokok, dan cara-cara lainnya, selama tidak ada niat dari  dalam diri mereka sendiri untuk berubah, maka akan sangat sulit sekali untuk membuat mereka berhenti menghisap rokok. Tak perlu kecewa, apalagi marah karena merasa tidak didengarkan, bukankah tugas kita hanya untuk sekedar saling mengingatkan? Karena hanya Tuhan yang mempunyai kemampuan untuk mengubah seseorang.

Namun begini, ibarat kata pepatah, “kita tidak bisa mengubah masa lalu yang kelam, tapi kita bisa merangkai masa depan yang lebih indah”. Kita mungkin tidak bisa mengubah dan membuat orang-orang yang kita sayangi (ex: Ayah, kakak, adik,  suami, atau siapapun) untuk berhenti merokok, tapi satu hal yang pasti, yaitu bahwa kita pasti bisa mencegah anak kita kelak dari  godaan untuk merokok, dan menghindarkan mereka dari bahaya candu rokok.

Tapi bagaimana caranya? Benar bahwa kita bisa mengawasi anak kita selagi mereka masih dalam masa balita dan kanak-kanak. Tetapi bagaimana nanti ketika mereka sudah memasuki masa sekolah menengah? Ketika kita tidak mampu lagi mengawasi mereka setiap waktu. Bagaimana caranya agar anak-anak kita nantinya tidak tergoda untuk mencoba sebatang rokok yang ditawarkan oleh temannya di sekolah, yang ujung-ujungnya akan membuat mereka semakin sering menghisap batang demi batang rokok tersebut?

Dulu, ketika saya masih kecil, ayah pernah memberikan saya sebuah buku. Buku cerita tanpa gambar, yang isinya adalah pelajaran yang dibalut dengan cerita seru petualangan beberapa anak sekolah yang berlibur ke sebuah pedesaan. Dari membaca buku tersebut, ada dua hal yang selalu terkenang di dalam ingatan saya sampai saat ini. Yang pertama, di dalam buku tersebut Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, bahwa nanti di tahun 2020, jika tidak ditanggulangi dan hanya dibiarkan begitu saja, maka sungai musi akan menjadi tong sampah terpanjang di dunia. Dan hal kedua dari buku tersebut yang masih saya ingat sampai sekarang adalah, Prof. Dr. Emil Salim juga mengatakan, kalau kita ingin agar nanti ketika dewasa, anak-anak kita terbebas dari bahaya merokok, maka sibukkanlah mereka dengan kegiatan olahraga. Selain juga tentunya dengan selalu memberikan pengetahuan kepada mereka akan bahaya dari zat-zat yang terkandung di dalam rokok tersebut.

Olahraga dan merokok itu, ibaratnya Manicure dan mencuci piring. Logikanya begini, mana ada seorang wanita yang rutin melakukan perawatan pada kuku-kuku dan jari tangannya (manicure), yang rela bersedia untuk mencuci piring. Mungkin ada beberapa yang mau, tapi lebih banyak yang akan menolak. Karena terang saja, mengingat kuku-kuku tersebut yang sudah indah, diberi cat dan dirawat dengan biaya yang tidak murah, ternyata harus dikotori, dan ditambah dengan kemungkinan akan rusak karena bersentuhan dengan sabun colek.
Begitulah mereka yang rutin berolahraga, berkeringat, merasakan tubuhnya yang sehat dan segar bugar, akan berfikir berulang kali untuk merusak semua itu hanya karena rokok.

Sampai saat ini saya berhasil menahan diri tidak tergoda untuk merokok. Padahal semenjak SMP, teman-teman sepergaulan saya kebanyakan sudah mengenal rokok. Begitupun ketika saya duduk di bangku SMA, hampir semua teman saya sudah merokok.

Semenjak Sekolah Dasar, orang tua saya sudah menyibukkan saya di Karate, Sepakbola, dan kegiatan olahraga lainnya. Bukan untuk menjadikan saya seorang atlit, tapi hanya ingin agar saya tidak takut untuk berkeringat, dan timbul rasa cinta akan olahraga.
Ketika saya dewasa, saya kembali disibukkan dengan Anggar (Fencing), dan Gym/Fitness. Khusus untuk fitness, saya melakukannya bukan untuk mendapatkan perut sixpack atau apalah, tapi hanya untuk merasakan tubuh yang sehat karena rutin berolahraga.

Merokok mungkin terkesan biasa dan lumrah apabila dilakukan di dalam lingkungan sesamanya, tetapi tidak jika dilakukan di dalam lingkungan yang gemar berolahraga.
Saya pernah membuktikannya, ketika di suatu sore saya dan beberapa teman dari klub Anggar sedang beristirahat, kami melihat seorang pria yang sedang asik menghisap rokok. Salah seorang teman saya pun berkomentar, “mau mati kok ribet dan mahal banget sih, mending loncat dari gedung daripada merokok. Toh intinya sama saja, bunuh diri!”.
Merokok, mungkin dianggap “biasa” oleh mereka sesama perokok, tapi dianggap sebuah “kebodohan” bagi mereka yang peduli dengan kesehatan.
———————-

A Disgusting Habit

Dulu teman saya di SMA pernah dengan bangganya mengatakan kepada saya, sambil menunjukkan sebatang rokok yang tengah disulut api, dia mengatakan kepada saya,
“dengan menghisap rokok ini, saya sudah berkontribusi dalam membangun negara ini”
.
Gosh..!! Alangkah pendeknya pikiran anak ini, pikir saya.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa ada banyak sekali pemikiran-pemikiran yang salah menyangkut hal rokok ini. Mulai dari hal yang kecil hingga yang besar, seperti: Rokok membuat seorang laki-laki terlihat dewasa dan keren. Rokok mempermudah pergaulan dan mendapat teman. Rokok dapat membuat hangat tubuh. Rokok bisa menyembuhkan batuk. Rokok penyumbang pajak terbesar di negeri ini, sehingga apabila rokok dilarang maka ekonomi negara akan goyah, dan  pemikiran-pemikiran aneh yang lainnya.

Laki-laki itu dinilai dewasa dari pemikirannya, dari cara berfikirnya, bukan dari merokok atau tidak merokoknya. Keren itu, adalah ketika kita tau mana yang baik bagi kesehatan kita, dan mana yang buruk bagi kesehatan. Dan kalau sekedar ingin mendapatkan teman baru, maka rajin-rajinlah membagi senyum kalian kepada orang lain, dan bukan membagi rokok.

“Industri rokok adalah penyumbang pajak terbesar, merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, sehingga apabila rokok dilarang maka ekonomi negara akan goyah”.
Jujur saya bingung, ini faktanya dari mana ya? Ataukah ini hanya sekedar pepesan kosong untuk menakut-nakuti agar industri rokok tetap berjaya di negeri ini, atau juga semacam pemakluman karena rokok telah dibiarkan berkembang di negeri ini?

Entahlah, saya memang bukan orang yang bergelut di dunia perpajakan, atau seorang ahli yang paham mengenai hal ini. Tapi yang saya tau, bahwa negara ini bukan negara murahan. Bukan negara murahan yang menggantungkan hidupnya dari pajak rokok yang tak seberapa. Negeri ini kaya, teramat sangat kaya. Berapa besar pajak yang dihasilkan dari ratusan juta rakyatnya yang taat membayar pajak setiap tahunnya? Berapa besar pajak yang dihasilkan dari tiap bangunan yang berdiri di atas tanah di negeri ini? Berapa besar pajak yang didapatkan dari tiap-tiap usaha rakyatnya yang kreatif berwirausaha? Pajak dari kendaran bermotor? Saya tidak  sedang mengajak kalian untuk berhitung. Tapi bagaimana dengan pendapatan negara dari sumber lainnya? Lihat kontribusi yang diberikan oleh daerah-daerah sumber devisa negara dan para pekerja di luar negeri yang memberikan sumbangan devisa untuk negara, yang jumlahnya tidak sedikit. Hitung juga berapa  banyak uang yang dihasilkan dari tambang-tambang yang ada di negeri ini. Ah.. sungguh negara ini bukan negara banci, yang hanya bergantung hidup hanya dari recehan pajak industri rokok.

Kalau ingin berkontribusi dalam pembangunan negeri, maka lakukanlah dengan pintar. Berbuatlah sesuatu yang nyata, tanpa harus mengorbankan diri dengan mengasapi tubuh dengan menghisap rokok setiap waktu, yang nyatanya hanya akan menguntungkan perusahaan asing yang menguasai hampir seluruh saham dari industri rokok tersebut.

“A disgusting habit, merokok adalah kebiasaan yang menjijikkan”, begitu kata Morgan Freeman dalam salah satu film nya.
———————-

Berhenti karena keinginan sendiri

Saya ingat dulu semasa kuliah, ada salah seorang teman saya, seumuran saya,  anggaplah namanya si A, yang menderita sakit karena terlalu banyak menghisap rokok.
Ya, paru-parunya telah berlubang karena disebabkan oleh asap rokok. Sama seperti cerita si tetangga saya tadi. Hanya saja teman saya si A ini masih diberi kesempatan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Berminggu-minggu ia terpaksa dirawat di rumah sakit. Ibunya menangis meminta kepada dia agar menghentikan kebiasaannya merokok.

Tak lama berselang, si A pun kembali masuk kuliah seperti biasa. Tapi ada yang sedikit berbeda darinya. Ternyata dia sudah meninggalkan kebiasaan merokoknya, walaupun terlihat bahwa dia masih berusaha keras melakukannya. Teman-teman kampus yang lain, karena merasa akrab dengan si A, terkadang menggodanya dengan cara merokok tepat di hadapan dia, dan mengatakan bahwa menghisap rokok itu rasanya nikmat sekali. Si A pun hanya tersenyum kecut, menatap nanar pada teman lain yang sedang asik menghisap batangan rokok. Tragis, karena ingin rasanya merokok, namun teringat kondisi tubuh yang mengharuskan dia untuk berhenti merokok, teringat janji pada ibu untuk tidak lagi merokok.

Merokok itu buruk bagi kesehatan!
Berhentilah selagi masih sehat, dan jangan berhenti ketika sudah sakit. Berhentilah karena keinginan diri sendiri, dan bukan karena keadaan yang memaksa kita untuk berhenti.

Salam hangat dari saya..
Saudara sesama anak Indonesia, sama-sama cinta Indonesia ;’)
———————–

Video tentang akibat dari asap rokok bagi tubuh kita. ( Wajib ditonton, kurang dari 1 menit)

Video tentang bisnis industri rokok di Indonesia

  1. “Thankyou your smoke makes me die faster!” Tulisan yang dibuat oleh seorang teman di baju dan stiker yang dia jual murah untuk kemudian uangnya disumbangkan untuk bantuan kemanusiaan.

    Banyak perokok yang tidak menyadari bahwa dia tengah membuat orang disekelilingnya “mati lebih cepat”. Bahkan termasuk orang” yg dia sayangi.

    Nice posting uncle :)

  2. yang paling menyedihkan adalah perokok berat yang tidak memperhatikan gaya hidup sehat padahal masih punya anak kecil-kecil yang butuh kasih sayang.

    that was my dad :)

  3. Alhamdulillah sudah bisa berhenti merokok. :D

    • Alhamdulillah… ini benar-benar sesuatu banget mas :D
      Semoga kedepan akan ada lebih banyak lagi yang seperti mas Ipung.

    • niken
    • March 11th, 2012

    Membaca post ini membuat saya senyum-senyum sendiri karena saya sendiri tidak suka orang merokok tapi toh dikelilingi orang merokok. Karena rokok itu candu, susah bagi kita untuk menghentikannya kecuali ada kesadaran dari perokok itu sendiri. Semoga sih makin banyak orang yang menyadari bahaya merokok dan meninggalkan kebiasaannya itu :)

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: