Lesson #1. Priority

Wah, ternyata sudah lebih dari dua minggu saya tidak menulis di blog *bersihin jaring laba2*.
Oh iya, buat kawan-kawan yang belum tau, saat ini saya sedang tidak berada dirumah loh. Sudah lebih dari dua minggu saya jauh dari keluarga. Kemana? Pulau Jawa. Jawa Tengah! Dalam rangka apa? Dalam rangka usaha menggapai impian.
Disini, koneksi internetnya tidak sebaik dirumah. Makanya saya jarang bisa menulis di Blog. Karena jangankan untuk menulis blog, membuka email pun saya harus ekstra bersabar.
Kalau mau yang koneksinya cepat, ya memang ada. Tapi jaraknya itu loh yang nggak santai, juaauuhh. Dan itu yang saya nggak suka. Hahaha..

Kalian tau Jawa Tengah kawan? Tempat ini indah sekali. Sawah, pegunungan, penduduk setempat, semuanya berpadu sempurna. Saya merasa tempat ini merupakan surganya para fotografer untuk mendapatkan foto-foto yang ciamik.
Disini saja, ditempat saya tinggal ini, dikelilingi oleh 5 Gunung. Bayangkan! Kalau dari tempat saya sedang online sekarang ini, ketika pagi hari dan cuaca mendukung, maka saya bisa melihat pemandangan 3 gunung sekaligus. Gunung Merapi, Merbabu, dan  Sumbing.

Nah, tapi sudah lebih dari 2 minggu saya berada disini, namun saya belum mendapatkan satu buah foto pun. Aneh? Iya, saya pun merasa ada yang tidak wajar dengan ini.
Kamera, saya bawa. Kendaraan, tersedia. Objek untuk dipotret, melimpah ruah. So?
Ternyata niatnya yang tidak ada. Baru saya sadar bahwa niat awal ketika saya berangkat dari rumah adalah untuk belajar. Maka ketika sampai disini, yang saya lakukan ya hanya belajar.

Bukan tidak sering saya melewati area persawahan yang sangat indah disini. Kalau dulu, ketika niatnya adalah traveling, maka ketika melihat pemandangan seperti itu, esok paginya pasti saya kembali lagi kesana untuk memotret. Kalau dulu, selalu saya sempatkan naik motor pagi buta menembus dinginnya udara pagi hanya untuk mencari angon bebek. Memotret Borobudur. Memotret Para pelancong. Memotret para petani. Motret semua!

Tapi untuk saat ini berbeda, kawan. Setiap saat, setiap waktu, hanya buku yang saya baca. Ketika sedang merasa bosan, saya tidur. Bangun tidur, belajar lagi. Bosan belajar, saya pegang-pegang kamera. Nanti belajar lagi. Kalau bosan belajar, saya pegang-pegang ransel. Kemudian belajar lagi. Bosan belajar, saya menonton tv. What a daily routine!

Saya cinta memotret. Tapi demi sesuatu hal yang lebih penting bagi hidup saya, maka saya mengabaikan kecintaan saya akan memotret. Saya jadi belajar suatu hal. Tentang prioritas!
Betapa “prioritas”, mampu mengesampingkan hal-hal yang saya cintai, menjadi biasa saja.

Saat ini saya masih muda. Masih single. Pilihan yang saya hadapi pun masih tergolong sederhana. Tapi nanti, ketika saya sudah berkeluarga. Maka pilihan pun akan semakin rumit.
Banyak saya melihat, mereka yang masa mudanya selalu melakukan hal yang mereka cintai, tapi ketika mereka sudah berkeluarga, mereka pun seakan lupa akan hal-hal tersebut.
Mereka yang dahulu ketika muda, selalu meracuni saya cerita tentang backpacking dan asyiknya menjadi seorang backpacker, tapi kini ketika sudah berkeluarga, jangankan untuk menjadi seorang backpacker (lagi), bepergian pun mereka sudah sangat jarang sekali.
Kalau dulu, dengan sedikit menyindir, saya sering menyebutnya “idealisme yang terkikis”. Tapi sekarang, saya menjadi lebih mengerti dengan apa yang mereka alami. “Prioritas!”.

Entah kenapa, tiba-tiba saya jadi teringat Abee (Ayahnya Kenzie). Sederhana sekali hidupnya. Dari Senin – Jumat bekerja. Pergi pagi hari, dan pulang ketika petang menjelang malam hari.
Tidak ingin yang macam-macam. Tidak ingin yang lainnya. Hanya begitu saja.
Bukan tidak senang bepergian, tapi mungkin ketika melihat Kenzie, maka semuanya pun terasa tak penting lagi. Prioritasnya hanyalah Kenzie dan keluarga kecilnya.

Siapa yang tahu esok hari. Saya yang juga sangat mencintai backpacking, nanti ketika sudah berkeluarga, ternyata harus mengesampingkan hobi itu. Bukan karena tidak berkecukupan uang ataupun waktu, tapi karena saya sudah mempunyai sesuatu yang harus diprioritaskan. Karena ketika kita sudah memprioritaskan sesuatu, maka seluruh energi pun hanya akan terfokus untuk hal itu saja, bukan?

Saat ini, ketika orang bertanya kenapa saya tidak jalan-jalan untuk memotret ataupun melakukan hal-hal yang saya sukai selagi disini, maka saya selalu menjawab, “Saya harus belajar agar tidak gagal. Karena gagal itu menyakitkan!”
Nanti ketika sudah berkeluarga, ketika orang bertanya kenapa saya tidak melakukan hal-hal yang saya sukai, siapa yang tau, mungkin nanti saya akan menjawab, “Karena prioritas saya adalah keluarga, dan karenanya, hobi pun terasa tidak begitu penting lagi”.

Well, orang bilang bahwa prioritas dan hobi itu bisa berjalan beriringan. Tapi kenapa yang saya rasakan disini, saat ini, saya sangat takut untuk bersenang-senang. Sangat takut untuk melakukan kegemaran-kegemaran saya. Saya takut gagal! Saya harus fokus!
Entahlah, tapi yang jelas, bepergian keliling dunia bersama keluarga kecil saya nantinya akan tetap saya lakukan. Kenapa? Karena itu adalah impian saya!

Owkay, this is the lesson that i’ve learnt. What about yours, mate? :’)

  1. langsung ngaca…. cari kaca … lgs ngaca :'(
    #dan perjalanan2 seperti itu kini terasa sangaat “mahal”

    • Si Ochoy
    • July 27th, 2012

    Setuju sama Mba Dian, langsung ngaca…langsung mikir…hehehe..what a nice post Mas Adit! Ini sejenis alarm pengingat hehehe..Semangat mas!

    • Thomas Ephin
    • July 17th, 2013

    Idealisme yang terkikis. Persis seperti yang saya alami, pengen backpacking tapi tidak bisa lagi….. Hiks

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: