Bromo | More than just a Beautiful Sunrise

Rencana gila menggapai Pananjakan (2706 mdpl)
Pukul 2 pagi, kami semua sudah terbangun dari tidur. Homestay pun menjadi begitu gaduh dengan aktifitas dan suara kami yang sibuk mempersiapkan diri masing-masing untuk menuju ke Panajakan guna melihat Sunrise yang terkenal indah.
Jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, dan segala perlengkapan pun disiapkan.

Pukul setengah tiga, kami keluar dari homestay. Tampak di depan halaman sudah menunggu pak Sabir, guide yang akan memandu kami menuju ke Pananjakan pagi itu.
Total anggota kami berjumlah delapan orang. Selain saya dan pak Sabir, ada Arthuras dan Rhasa, pasangan Lithuania itu tampak begitu santai dengan perlengkapan seadanya. Ada pula Ex dan Aoi, duo Thailand yang lucu dan selalu menebar tawa. Kemudian ada duo Female Traveler yang tangguh, Sera Karenina dan Kinkin.

Kecuali Kinkin, maka anggota yang lain baru saya kenal ketika sedang menunggu mobil angkutan (elf) untuk menuju ke Cemoro Lawang di Probolinggo. Saat itu saya dan Kinkin sudah menunggu elf untuk penuh (15 orang) selama hampir 10 jam. Kemudian datanglah Arthuras, Rhasa, Ex, dan Aoi. Arthuras dengan tipikal yang santai dan pendiam. Rhasa yang tidak sabaran, dan seringkali menunjukkan muka bad mood nya, bahkan sampai memarahi supir elf yang mematok tarif seenaknya. Ex dan Aoi, duo Thailand dengan bahasa inggris yang seadanya, tetapi selalu menanyakan segala hal hingga yang remeh sekalipun. Kemudian akhirnya bergabunglah Sera Karenina, yang datang seorang diri dari Kalimantan.

Bertujuh, jadilah kami teman yang akrab. Mulai dengan bertukar cinderamata berupa uang dari masing-masing negara, berfoto bersama, hingga merencanakan ide gila untuk menuju ke Pananjakan dengan berjalan kaki.

Aoi pun melompat kegirangan mendengar rencana itu. Dalam bayangan Aoi, dengan memilih berjalan kaki ketimbang menggunakan Jeep/Hardtop, maka akan menghemat uang mereka. Ex dan Aoi, hanya satu yang mereka suka, yaitu harga yang murah.
Saya teringat ketika kami pertama kali tiba di Cemoro Lawang. Saat itu banyak pemilik homestay yang menawarkan tempatnya untuk kami inapi, dengan bahasa indonesia yang tentu saja tidak dimengerti oleh duo Thailand tersebut. Aoi berbisik kepada saya dan Ex, sambil tertawa dia mengatakan, “I only want sleep in a cheap place”. Hahaha…
Pun begitu ketika Ex dan Aoi sedang menawar sebuah sarung tangan di Cemoro Lawang. Saat itu Ex menanyakan harga sarung tangan tersebut kepada penjualnya. “How much is this?”. Si penjual pun menjawab, “five thousand, mister”. Kemudian Aoi pun mengeluarkan kalkulator dari dalam tas nya, setelah mereka berdua sibuk menghitung, kemudian Ex menjawab, “Oh no.. expensive.. expensive”. Dan dilanjutkan oleh Aoi, “I buy one thousand okay?”. Saya pun hanya tertawa melihatnya. Hahaha…

Cerita dari pasukan paling belakang…
Di komandoi oleh pak Sabir, kami pun berjalan di tengah kegelapan dengan panduan penerangan beberapa lampu senter. Udara pagi itu sungguh terasa menusuk kulit. Pak Sabir memotong jalur agar bisa lebih cepat sampai ke Pananjakan. Mendaki bukit terjal!

Belum jauh jarak yang ditempuh, maka sudah terbentuk beberapa kelompok dalam perjalanan pagi itu. Di bagian terdepan, ada Pak Sabir bersama Arthuras dan Rhasa.
Kemudian di kelompok kedua, tidak jauh berjarak dari kelompok terdepan, ada Sera dan Kinkin yang cukup tangguh untuk bisa mengimbangi kecepatan mendaki kelompok pertama. Dan yang terakhir, kelompok yang selalu berada di belakang, dan harus selalu ditunggu agar tidak tersesat, ada Ex, Aoi, dan saya. Iya, saya masuk kelompok paling belakang. Hahaha…

Pagi itu, tubuh kami mendapatkan dua efek yang berbeda. Dingin diluar, tetapi hangat bahkan gerah di dalam. Ya,  udara pagi itu memang sangat dingin, tetapi karena medan yang benar-benar sulit, membuat tubuh bekerja extra keras untuk melaluinya, sehingga tubuh pun mengeluarkan keringat yang cukup banyak.

Sambil tergopoh-gopoh karena tertinggal jauh dari kelompok yang lain, saya pun berbicara kepada duo Thailand itu, “Shit, i’m wearing 2 shirts plus Jacket, my body is so hot”. Kemudian Aoi, dengan sambil terengah-engah, mengatakan, “me.. me use 3 layers!”. Kami pun terbahak menertawakan kebodohan kami yang begitu takut untuk merasa kedinginan sehingga menggunakan baju berlapis-lapis, yang malah merugikan diri kami sendiri.

Trek yang dilalui pun menjadi semakin sulit. Jalan tanah yang sempit dan mendaki, dengan jurang yang menganga di sisi kanan. Yep, ketika saya mengatakan “jurang”, maka itu benar-benar jurang dengan kedalaman puluhan meter. Dalam kondisi yang gelap, terkadang kami bahkan harus memegang sebuah batang pohon kecil agar tidak tergelincir. Di beberapa trek yang begitu sulit untuk dilewati, pak Sabir pun terpaksa membantu kami satu persatu dengan menarik tangan kami agar bisa melaluinya.

Dengan fisik yang paling lemah, saya, Aoi, dan Ex pun semakin tertinggal jauh dari kelompok yang lain. Tidak jarang, anggota lain harus berhenti dan menunggu kami sampai kepada mereka, untuk kemudian bisa melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Tapi apa daya, sesering apapun mereka menunggu kami, tetap kami akan tertinggal lagi, dan lagi. Arthuras dan Rhasa, secara fisik mereka memang lebih baik dari yang lain. Pak Sabir, tak perlu diragukan lagi, sudah tidak terhitung berapa kali ia berjalan kaki mendaki seperti ini. Sementara Sera dan Kinkin, entah terbuat dari apa kaki mereka, bahkan sampai bisa menyamai cepatnya jalan pak Sabir dan duo Lithuania itu. Sedangkan kami bertiga, ahh.. sungguh memalukan, bak ayam sakit yang sedang menghadapi sakratul maut. Hahaha…

Tapi dibandingkan saya dan Aoi, maka Ex sedikit lebih baik. Jika diberi level, maka saya dan Aoi ada di level 50. Sedangkan Ex berada di level 55. Maka Ex pun menjadi pendukung bagi saya dan Aoi. Ia berada paling belakang, sedangkan saya di tengah, dan Aoi di depan.

Ex, seberapa pun lambannya saya dan Aoi berjalan, tetap setia menunggui kami. Ia mendorong tubuh belakang saya agar terus berjalan, menarik tangan Aoi ketika mendaki, dan memberikan motivasi-motivasi kepada kami, walaupun dia sendiri tampak kepayahan.

Selama perjalanan itu, saat-saat yang paling saya sukai adalah ketika Aoi tidak kuat lagi untuk mendaki, dan memilih untuk duduk. Maka saya pun bisa ikut duduk dan beristirahat bersamanya. Tetapi saat yang tidak saya sukai adalah ketika saya sudah merasa tidak kuat lagi untuk mendaki, akan tetapi Aoi masih ingin mendaki. Ex yang bingung pun kemudian lebih memilih untuk mendampingi Aoi. Karena selain Aoi adalah seorang wanita, ia adalah travelmate senegaranya. Hahaha…

Suatu ketika saya sudah sangat kelelahan dan tidak sanggup untuk mendaki, maka saya pun memilih untuk beristirahat dan duduk di rerumputan. Tetapi bahkan dengan duduk pun ternyata tidak mampu meredakan lelah saya, maka saya pun berbaring telentang di tanah. Kemudian Aoi pun melewati saya, tetapi ia tampak masih sedikit kuat dan masih ingin mendaki. Saya pun kemudian membujuknya untuk mengikuti apa yang sedang saya lakukan. “Aoi..Aoi.. try this.. go try.. lie down in a ground like me”. Kata saya membujuknya.
Tetapi sialnya, entah ucapan saya yang tidak jelas karena beradu cepat dengan suara nafas yang ngos-ngosan, ataukah telinga Aoi yang tidak jelas mendengar karena terlalu lelah, dia pun mendengar kata “try” sebagai “cry”, maka dia pun menjawab, “why? no..no.. i don’t want”, kemudian ia pun meneruskan mendaki walau dengan sangat tertatih. Oh thanks God, saya pun segera bangkit dan kembali bergabung bersama mereka, agar tidak sampai tertinggal.

Help, I Can’t Breathe..!!
Ini adalah saat yang paling berat dalam hidup saya. Sungguh, baru kali ini saya merasakan sesak dan lelah yang begitu berat. Saya bahkan tidak sanggup lagi berjalan bersama Aoi dan Ex. Mereka sudah berada di depan saya, tak mampu lagi saya susul. Tetapi kali ini, duo Lithuania, Arthuras dan Rhasa yang berganti mendukung saya. Sungguh saya benar-benar malu, tapi juga terharu. Malu karena telah menjadi beban bagi mereka. Terharu, karena mereka yang awalnya terkesan begitu cuek, tiba-tiba menjadi begitu memperhatikan saya. Mereka benar-benar menjaga saya selama perjalanan pagi itu.

Sungguh, saya tidak sedang berbohong, medan yang kami lalui sungguhlah berat. Tidak heran jika ketika saya menanyakan perihal mendaki ke Pananjakan kepada supir elf yang mengantarkan kami ke Cemoro Lawang, maka sang supir pun berkali-kali mengatakan bahwa hal itu terlalu berbahaya, dan jarang ada orang yang mau menjadi guide.
“Bisa.. tapi saya rasa nggak ada yang mau mas. Soalnya jalan ke penanjakan itu sulit kalo jalan kaki, dan berbahaya.. terlalu berat mas!”.

Tapi ternyata ada Pak Sabir yang bersedia mengantarkan kami mendaki ke Pananjakan. Walaupun jalan untuk menuju kesana cukup berat, yang kalau kata Aoi, maka kami semua sudah gila karena mau melakukannya. “I think we are crazy doing this”.

Ketika saya tidak kuat mendaki dan memilih untuk duduk, Arthuras dan Rhasa pun ikut menunggui saya. Tidak perduli dengan paksaan saya yang menyuruh mereka agar melanjutkan perjalanan dan tak perlu menemani saya.
“You can go guys, i’ll catch u up in panajakan”
kata saya dengan nafas yang menderu.
“Oh no no.. we’ll go with you” kata Rhasa dengan pasti.
Sementara Arthuras hanya duduk diam disamping saya.

Rhasa pun terus menerangi muka saya dengan sinar dari senternya.
Adit, u look so pale. Are u sick? ” Tanya Rhasa cemas menatap muka saya yang pucat.
Saya, dengan nafas yang ngos-ngosan dan sungguh berisik, hanya bisa menjawab,
“I don’t know Rhasa.. I can’t breathe… I can’t breathe Rhasa…”.

Entahlah apa yang terjadi pada saya saat itu, yang jelas saya sungguh merasa sulit untuk bernafas. Sesak yang saya rasa. Jantung berdegup begitu cepat dan kencang. Sebanyak apapun udara yang saya hirup, serasa tak mampu memenuhi rongga paru-paru saya.

Baru setelah saya pulang ke rumah di Magelang, kemudian menemui dan berkonsultasi dengan dokter, barulah saya tau bahwa sesak itu disebabkan oleh asam lambung.
Asam lambung membuat nafas saya pendek dan tubuh cepat lelah.
Ya, beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Bromo, saya memang sempat sakit. Tetapi dalam masa sakit itu, saya tetap berangkat ke Semarang dengan menggunakan motor. Pulang dari Semarang saya kehujanan. Malamnya saya pun kembali menerobos hujan demi memotret perayaan Waisak di Borobudur. Lebih diperparah lagi dengan jadwal makan saya yang tidak teratur selama disini.
Perut saya terasa mual, tetapi saya pikir itu hanya masuk angin biasa. Saya pun sempat mengeluhkan jantung saya yang terasa berdebar-debar, tetapi lagi-lagi saya pikir itu hanya masuk angin biasa, dan memilih untuk mengabaikannya.

Dan puncaknya adalah malam itu, kondisi tubuh yang tidak fit, ditambah itu adalah pengalaman pertama saya mendaki bukit, kaki dan paha ini sungguh belum terbiasa dengan trek yang begitu ekstrem. Benar-benar sebuah mimpi buruk bagi saya. Saya benar-benar merasa bahwa jantung saya akan berhenti bekerja, karena terlalu keras dipacu. Dalam masa-masa yang berat itu, seketika terbayang di benak saya apa yang dirasakan oleh mereka yang meninggal dalam perjalanan pendakian gunung. Sebutlah Wamen ESDM (alm) yang baru-baru ini meninggal dalam pendakian gunung Tambora karena jantungnya yang tiba-tiba berhenti bekerja. Seketika itu pula timbul rasa kagum dan hormat saya kepada para pendaki gunung yang mampu mendaki hingga ke puncak. Sungguh kuat fisik mereka..

Ketika semakin mendekati penanjakan, dan trek yang dilalui pun tidak lagi berupa jalan setapak, maka terlihatlah beberapa motor yang menjual jasa angkut hingga ke pananjakan. Dengan tubuh yang tidak mampu lagi berjalan, dan jantung yang semakin kencang berdegup, saya pun memutuskan untuk menggunakan jasa mereka. Jarak yang kalau di kota saya bisa ditarif hanya dengan 2 ribu rupiah, maka oleh mereka dikenakan tarif 20 ribu rupiah. Oh well, tidak ada lagi pilihan. Jatuh pingsan dan merepotkan anggota yang lain karena harus mengangkat tubuh saya, atau mengeluarkan 20 ribu rupiah.
Oke, angkut saya pak.. I’m all yours!

Bromo. More than just a beautiful Sunrise.
Ketika semua sudah sampai di pananjakan, maka saya pun menghampiri mereka yang telah mendukung saya dalam masa-masa sulit sebelumnya. Saya hampiri Ex, dan mengucapkan terima kasih karena sudah membantu saya mendaki. Saya pun menghampiri Rhasa untuk melakukan hal yang sama. “Rhasa, thanks so much for helping me.. thanks to Arthuras also”, kata saya kepada Rhasa.
Kami pun kemudian membahas rencana perjalanan turun dari Pananjakan, dan rencana berjalan kaki ke Lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Perjalanan kali ini, lebih dari sekedar hanya melihat sunrise indah di Gunung Bromo.
Perjalanan kali ini adalah tentang mencapai, dan berusaha untuk melampaui batas kemampuan fisik. Tentang perjuangan demi meraih sesuatu. Tentang tak kenal menyerah.
Dan yang paling saya rasakan, perjalanan kali ini adalah tentang persahabatan, dan ketulusan hati untuk saling memberikan dukungan ketika dalam masa-masa sulit.
Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dalam perjalanan kali ini.

Terakhir, saya pun mendekati Aoi, “Aoi.. next time if u come to Bromo, walk to panajakan or rent a Hardtop?”. Aoi pun menjawab dengan terbahak, “Hardtoppp.. hahaha.. no more walk!!”

Hari itu, entah sudah berapa puluh kilometer jarak yang kami tempuh. Mendaki ke Pananjakan. Turun ke Cemoro Lawang. Kemudian dilanjutkan berjalan membelah lautan pasir menuju ke kawah Gunung Bromo. Dan yang terakhir, berjalan pulang, yang diakhiri dengan mendaki bukit menuju homestay tempat kami menginap. Aoi pun sempat berkata kepada saya, “if i back to Thailand, i will buy new legs. Cos these one already broken”.
Saya dan Ex pun tertawa mendengarnya.

After the Party
Terminal Probolinggo

Setelah saling bertukar alamat facebook, email, dan lain sebagainya, kami semua pun berpelukan, dan menuju ke arah tujuan masing-masing.
Arthuras dan Rhasa akan melanjutkan perjalanan ke Bali. Sera, Aoi, dan Ex menuju Surabaya, untuk kemudian kembali ke rumah masing-masing. Sera ke Kalimantan. Duo Thailand Ex dan Aoi kembali ke Bangkok. Sedangkan saya dan Kinkin kembali ke Jogjakarta.

Di rumah bule’ di Magelang….
Saya sampai di magelang sore hari, dan langsung tertidur pulas.
Malam harinya, saya mengeluh sakit masuk angin dan mual kepada bule’.
Bule’ menawarkan dua pilihan. Dokter atau tukang pijat. Saya memilih yang kedua.

Selepas magrib, tukang pijat datang kerumah, dan mulai mengukir tubuh saya.
“Bude, merah nggak bekas kerokannya?” tanya saya kepada bude tukang pijat
Bude pun menjawab, “Nggak mas..”
Saya pun kaget.. “Hah? Masa’ nggak merah, berarti saya bukan masuk angin dong”.
Kemudian Bude menjawab, “Nggak merah, tapi ireng mas!”

Sehabis dikerok dan dipijat, saya pun merasa baikan, kemudian bisa tidur pulas.
Esok paginya, tubuh saya kembali bermasalah dan saya merasa mual. Akhirnya Om mengantar saya ke dokter. Saya pun di diagnosa menderita asam lambung.
Tensi darah saya yang sebelumnya 140/110, kini hanya 90/70.
Berat badan yang tadinya 74kg, kini berkurang 4kg hanya tinggal 70kg.

Di sambungan telepon…
“Bunda.. adit cuma sakit biasa kok. Nggak parah. Belum kena maag juga. Kalo bisa ayah jangan sampe tau ya. Nanti malah cemas terus marah-marah.”
“Tapi makan yang banyak yah, jangan males makan!”
“Iya bunda, janji. Yaudah yah.. assalammualaikum!”

Tidak lama setelah saya menutup telfon, handphone pun kembali berbunyi. Kali ini ada sms yang masuk. Saya lihat, ternyata dari Sera Karenina.
“Aduh Dit, badanku pegal semua”
Saya pun hanya tertawa membacanya.
“Dit, nanti kalo aku ke Jogja, dari bandara Adi sucipto kita jalan kaki ke Malioboro ya”
“Santai. Lo liat sendiri kan gimana tangguhnya gue kemaren” balas saya
“Kamu juara satu nyeker di Bromo, Dit”
“Hahahahaha….”
———————————–

Foto-foto Bromo lainnya bisa dilihat disini

  1. walaupun melelahkan..tapi rasanya menyenangkan deh Mas..
    hehe

  2. Petualangan yang seru, meskipun travelling tetep jaga kesehatan bro, kalo sakit travellingnya bisa stop hehe

    • Bener sekali mas.. Salah2 kalo nggak jaga kesehatan malah bisa merugikan diri sendiri. Berhenti traveling karena sakit itu nggak enak bgt. hehe…

  3. wawww kak adit…keren nian perjalannyo ^^ jd pengen..

  4. wah jalan ke pananjakan? :o Hahaha bareng mba kinkin itu ya? Dia emang dengkul dewa kayaknya :D

  5. Mantap Kalau jalan jalan bareng…

    Kunjungan balik yah.. :)

    Wisata Bromo,Bromo Tour,Paket Wisata Bromo,Paket Wisata Bromo Malang,Paket Wisata Bromo Ijen

  6. Ceritanya serru..

  1. September 15th, 2015

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: