Lesson #2. Healthy is Happy

Wow…  akhirnya saya bisa kembali menulis di blog tercinta ini! Luar binasa, hahaha…
Jadi ceritanya saya ini baru sembuh dari sakit, kawan.
Iya, kemarin lalu sepulang dari Bromo, tiba-tiba saya merasa tidak enak badan -ini sudah saya ceritakan di posting sebelumnya- tetapi setelah saya pulang ke Palembang, ternyata sakit itu kambuh lagi, malah terasa jauh lebih parah dari sebelumnya.
Sakit sekali loh kawan rasanya. Tubuh saya terasa lemas sekali. Perut mual. Dada saya pun terasa seperti ditindih oleh lempengan besi yang berat. Wow, what a nightmare!

Tidak kurang dari 3 orang dokter yang saya datangi. Puluhan jenis obat sudah saya minum, mulai resep dari dokter, hingga obat-obatan herbal saran dari teman. Kemudian melakukan cek darah, periksa urine. Tapi tetap saja, tubuh saya tidak juga kunjung membaik.
Macam-macam diagnosa dokter akan penyakit yang saya derita. Mulai dari masuk angin biasa, asam lambung, liver, dan berbagai penyakit lainnya, yang bahkan hanya dari mendengar namanya saja bisa membuat saya pucat pasi dan lesu darah. Truly a nightmare!

Biasanya, ketika seseorang sakit, kemudian minum obat dan tidur di malam hari, maka ia akan merasa sedikit baikan pada pagi harinya. Sayangnya bukan itu yang saya alami. Seberapa pun teraturnya jadwal saya minum obat di hari itu, seberapa pun panjang saya berdoa sebelum tidur agar bisa membaik keesokan pagi, maka yang saya dapatkan esok pagi ketika bangun tidur adalah hal yang sama dengan hari kemarin. Sedikitpun tidak ada perubahan positif pada tubuh saya. Dan hal itu benar-benar membuat saya frustasi, kawan.

Lebih kurang selama 20 hari saya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Hanya beranjak ketika ingin menunaikan sholat dan buang air kecil. Hanya bisa makan bubur setiap hari, itupun disuapin sama Bunda. Dan di lima menitnya setiap saya selesai makan, saya pun harus berjuang keras agar makanan itu tidak kembali keluar. Lemaasss sekali, tidak berdaya..

Bayangkan, selama 20 hari itu, karena tubuh yang lemas, saya pun terpaksa sangat jarang sekali mandi atau bahkan sekedar untuk mencuci muka, Hahaha.. sampai-sampai ketika kakak perempuan saya (ibunya Kenzie) datang kerumah dan melihat kondisi saya, dia pun menawarkan saya sesuatu yang, hmm… bisa dibilang menyenangkan, tapi juga seperti ada sesuatu yang tersirat dibaliknya. Dengan mendekatkan kepalanya ke muka saya, dia pun setengah berbisik mengatakan, “kalau nanti Adink sembuh, mbak Lia bakal ajak Adink ke tempat facial yang mahal. Oke kan.. kan.. kan..” #jleb
Oke, memang sebuah tawaran yang menyenangkan, tapi bisa jadi tawaran itu datang karena mbak Lia melihat kondisi muka saya yang mengerikan. Hahaha…

Belum cukup sampai disitu, ketika saya menanggapi tawarannya dengan hanya tersenyum dan sedikit berkata-kata, mbak Lia pun tiba-tiba langsung melompat menjauhi saya. Kemudian dia mengatakan, “wah parah, oke nggak mandi sih nggak mandi, tapi gosok gigi tetep wajib dong. Ini sih namanya Adink mau bunuh mbak Lia pake nafas dewa“. #jleb
Wow.. sungguh kawan-kawan sekalian, sepulangnya kakak saya, dengan tubuh lemas dan bermandikan keringat dingin, saya kerahkan seluruh tenaga dan memaksakan diri untuk mandi. Nggak rela rasanya diinjak-injak harga diri seperti tadi, hahaha…
Saya mandi, cuci muka, gosok gigi, keramas. Walau setelahnya saya menggigil kedinginan di dalam selimut tebal. Nggak apa-apa, yang penting sudah mandi. Haha…

Ahh.. 20 hari yang menguji kesabaran dan keikhlasan, 20 hari yang penuh dengan pelajaran.
Kata dokter sih, faktor kelelahan yang sangat, telah membuat proses penyembuhan saya berjalan begitu lamban. Kelelahan juga yang menambah parah sakit saya. Makanya Bunda kepingin saya untuk berhenti melakukan hobi saya yang suka jalan-jalan.

Memang sih, rasanya tidak adil bagi keluarga saya. Saya kan tipenya kalau jalan-jalan itu selalu yang (sok) ingin bergaya seperti backpacker-backpacker yang terlihat keren itu.
Menghindari kenyaman dalam setiap perjalanan, membawa uang seadanya, yang akhirnya ketika saya pulang kerumah, maka sangat jarang sekali saya bisa membawakan oleh-oleh buat keluarga, karena uangnya hanya cukup untuk transportasi dan sedikit akomodasi saja.
Menjadi tidak adil karena saya yang melakukan perjalanan. Saya yang bersenang-senang. Saya yang menyerap banyak pelajaran baru. Saya yang mendapatkan beragam pengalaman seru. Bertemu banyak teman yang lucu. Tetapi ketika saya jatuh sakit, maka keluargalah yang direpotkan dan dibuat panik seperti kemarin lalu.

Tidak adil bagi Bunda, yang sudah pontang-panting mencari obat hingga ke apotek yang lokasinya jauh sekalipun. Bunda yang selalu menemani saya ke dokter, memeriksakan kondisi tubuh, darah dan urine. Bunda yang terpaksa pulang cepat dari tempat kerja, atau bahkan terpaksa tidak bekerja demi menemani saya. Bunda yang selalu memasakkan saya bubur, hingga menyuapi saya setiap kali saya makan. Tidak adil bukan?

Tidak adil buat Ayah, yang pikirannya terganggu karena memikirkan kondisi saya. Ayah yang tak henti-hentinya memanjatkan doa demi kesembuhan saya, yang bahkan dalam sholat pun terus memikirkan tentang obat apa yang sekiranya dapat menyembuhkan saya.
Juga tidak adil buat kakak perempuan saya. Yang karena khawatir melihat nafsu makan saya yang turun drastis, ia pun mengeluarkan banyak uang untuk membelikan saya beragam makanan yang lezat dan enak, yang bahkan masih juga tidak menggugah nafsu saya.
Tidak adil bagi mereka keluarga semua, yang sudah ikut cemas, pucat pasi, dan merasakan lesu darah memikirkan kalau-kalau saya menderita penyakit yang berat dan berbahaya.

Maka saya pikir, sikap yang bijak adalah, untuk 2 tahun ini saya harus fokus kuliah saja. Berusaha untuk cepat lulus, dan membanggakan keluarga. Nanti traveling lagi kalau sudah lulus kuliah. Travelingnya pun tidak seperti kemarin, tapi traveling yang cantik ajalah yah. Hahaha… Yo’i coy, traveling cantik! Gimana itu? Nah itu saya juga belum tau, hahaha…

Kesehatan itu loh penting sekali. Orang yang belum merasakan sakit, biasanya tidak terlalu menghargai yang namanya “sehat”. Jor-joran tenaga melampaui batas yang mampu ditanggung badan, hingga nanti ketika sakit, baru deh menyesal. Jangan kawan! Jangan! Belajar dari pengalaman saya. Untung aja saya nggak kenapa-kenapa. Alhamdulillah.
Jaga kesehatan, sayangi badan, sebelum dokter bilang, “Kamu nggak bisa traveling lagi!”.
Ada “batas” yang harus dilampaui / dilewati. Tapi ada pula “batas” yang ketika kita sudah tau, maka kita harus berhenti. Kalian sendiri yang tau apa dan mana saja batas-batas itu.

So guys, how do you spell Happy?!?
Well, most people will spell it M.O.N.E.Y
But for me, I spell it H.E.A.L.T.H.Y

  1. Haha… traveling cantik… kalo aku nyebutnya backpacker manja ;p
    btw, pernah juga sakit pas ngetrip sampe muntah dahak yang ada darahnya, ke dokter nggak sembuh, trus pulang kampung rada mendingan, abis itu di rugyah sama bekam, langsung sembuh. hihi

    Nggak tau sih sakitnya apa, ya kayaknya hampir sama, badan panas, meriang, lesu, pusing, muntah, batuk. Becandaan temen2 pas ngetrip sih katanya aku diganggu penunggu citumang, gyahaha. Nggak tau deh bener kagaknya.

    • Wow, parah juga mas sakitnya, sampe di rugyah juga ya.. hahaha…
      Untungnya udah sembuh ya sekarang.

      Besok-besok traveling cantik aja kita mas, daripada nanti sakit lagi. Jadi backpacker manja ajalah. Hahaha…

  2. Hahaha…lucu juga bilang travelling cantik..
    Kalo mas adit, cocoknya travelling ganteng soalnya mas adit cowok. Kalo cewek baru travelling cantik.. hihihi…

  3. *ngapusin rencana jalan bareng :((

    • Mau kemance lu Ce? Hahaha…
      Bosscha masih bisa lah.. :p
      Kalo merapi juga bisa Ce, asal naik kendaraan. hahaha…

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: