Kawanan Burung

Saya ingat dulu ketika kecil, saya pernah diajak paman saya ke sebuah hutan. Di dalam hutan itu, paman hendak melepaskan seekor burung cantik yang telah lama ia pelihara ke alam bebas. Saat itu saya merasa begitu gembira, dada saya berdegup kencang, tangan saya tak berhenti bertepuk, tidak sabar untuk melihat kepak sayap sang burung yang terbang kembali ke alamnya. Kemudian, paman pun melepaskan burung tersebut dari dalam genggamannya, mencoba menerbangkan sang burung ke habitat aslinya. Tapi burung itu malah jatuh ke tanah. Ia terus mencoba untuk mengepakan sayap, namun hanya mampu merayap. Saya terdiam. Paman terdiam. Kami berdua terdiam. Antiklimaks!

Burung, mereka ditakdirkan untuk bebas. Sayap mereka kokoh karena kecintaan mereka akan terbang. Meliuk indah di sela-sela pepohonan, terbang mengikuti arus sungai hingga membelah angin terus keatas menembus awan. Merasakan bebas tanpa ada sekat yang mengikat. Mereka tau apa yang dimau. Tidak bingung tidak pula linglung. Hari ini melintasi pegunungan, esok hari mengunjungi lautan. Malam ini tidur di atas dahan, esok lusa pindah menginap di celah bebatuan. Rumah mereka adalah alam, bukan sebuah sangkar buatan.

Apa jadinya seekor burung yang berumah jeruji bambu. Hidup tak menentu sepanjang waktu. Melewati hari-hari menuruti kehendak sang pemilik diri. Hingga sampai akhirnya.. mati.

Beban akan terasa lebih berat apabila kita dikebat. Hidup akan terasa semakin sulit jika kita dijepit. Suara hati akan mati. Kemampuan diri pun tak lagi mampu tergali. Hidup… tapi mati.

Mungkin kita harus belajar memaknai arti kebebasan dari kawanan burung yang terbang di langit tak berbatas. Membentuk formasi dan menjelajah cakrawala tanpa kenal lelah. Melihat semesta memanfaatkan gugusan bintang dan pendar bulan sebagai panduan. Menjadikan alam sebagai teman, sekaligus sebagai pedoman.

Teman, terbanglah dalam kebebasan kawanan burung-burung itu. Karena dengan begitu, maka waktu bisa kita akali tanpa harus dibeli. Mengepalkan tangan untuk mimpi-mimpi yang belum sempat terealisasi. Demi hidup yang cuma diberi satu kali.

  1. *kepalkan tangan*
    eaaaak..

  2. Hidup cuma sekali, buat apa diperbudak orang lain? Your freedom is on your own hand. Suka tulisan ini! :)

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: