Setiap kita punya cerita

Disarankan ketika membaca tulisan ini, ada baiknya jika sembari mendengarkan lagu “perahu kertas” by Maudy Ayunda. Biar hatinya balance, bisa sedikit cooling down mamen :d
——————————————-
Setiap kita punya cerita…
Lantas kenapa ada orang yang merasa lebih dari lainnya?
Bukankah “dewasa” tak mengenal usia?
Dan dengan menjadi tua, bukan berarti kita tahu segalanya.

Andai kita mau belajar, bahwa planet yang kita tinggali ini, adalah satu dari 8 planet yang terdapat di dalam tata surya. Berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan Jupiter yang mencapai seribu kali lebih besarnya. Apalagi dengan matahari yang menjadi pusatnya. Tidak ada apa-apanya. Kalian tahu kawan, bahwa di galaksi Bima Sakti ini, tempat dimana tata surya kita berada, ada puluhan miliar planet yang mirip dengan bumi. Dan terdapat lebih dari 250 miliar bintang seperti matahari. Atau bahkan jauh lebih besar lagi. Andai kita mau mengerti, bahwa sungguh maha luas galaksi ini. Maha maha luas sekali. Tapi apakah kalian tau kawan, bahwa galaksi Bima Sakti ini, galaksi yang sungguh maha luas ini, ternyata hanyalah satu dari sekitar 350 miliar galaksi yang ada di jagat raya. Ya, itulah kenyataannya. Bahwa dengan luas hingga triliunan tahun cahaya, sungguh semesta ini tak ada batasnya. Tapi kenapa mereka yang pernah mendatangi beberapa tempat di Indonesia, mengunjungi Asia, bahkan Eropa, merasa diri paling semua? Seperti telah melihat segalanya. Selalu berbicara, sampai lupa akan nikmatnya menjadi telinga.

Tak dapat disangkal, bahwa Elang sangatlah pintar dalam hal terbang. Cekatan dalam mencengkram. Dan mahir perihal kecepatan. Tapi janganlah lupa, bahwa Elang tak punya insang. Elang tak bisa berenang. Dan Elang tak mampu untuk menyelam. Ia dapat menghitung tinggi sebuah gunung, tapi tak mampu mengukur dalamnya sebuah palung. Ia menjadi saksi keindahan apa yang ada di daratan. Tapi ia buta akan kemegahan isi lautan. Untuk itu, Elang harus berteman dengan Ikan. Elang harus bertanya kepada Ikan.

Jadilah Elang yang bijaksana. Elang yang mengerti, bahwa untuk bisa memperkaya diri, butuh sebuah usaha. Sebuah usaha dengan kerendahan hati, bukan kesombongan diri. Jadilah Elang yang cerdas. Elang yang memahami, bahwa gelas yang tinggi, akan selalu sulit untuk diisi. Bahwa hati yang beku, akan sulit untuk dimasuki ilmu.

ps: Well, saya pun masih terus belajar untuk bisa lebih sering menjadi telinga. Seperti kata orang bijak, bahwa telinga tak akan pernah menjadi harimau ataupun pedang bagimu :’)

    • niken
    • July 29th, 2012

    Saya juga masih terus belajar menjadi telinga..kadang saya ketiban “tanggung jawab” menjadi telinga karena keadaan *ehem*, dan yah, memang tidak semudah yang dikira. Tapi selalu menyenangkan ketika pada akhirnya kita bisa membantu orang lain dengan menjadi telinga :)

  1. are you listening or waiting to talk?
    -thingsweforget.blogspot.com

  2. Kereeeeeeeeeen! :)

  3. Menginspirasi sekali uncle.. hehe (#sokDekat)
    Makanya, kita diberi satu mulut dan dua telinga..

  4. like like like like

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: