Merantau

Now Playing: Don’t you remember – by Adele

Belakangan ini, mood saya cenderung kurang baik. Entah kenapa, akhir-akhir ini saya agak sulit untuk tertawa. Kalau kata orang sih, senggol bacok. Ya, mungkin seperti itulah perumpamaan-nya. Akhir-akhir ini saya lebih sering tidur. Berdiam diri, tapi bukan meditasi. Dan sering asyik bermain dengan pikiran sendiri. Wow, alangkah produktifnya keseharian saya. Saya juga lebih senang mendengarkan lagu-lagu dari koleksinya Adele. Set fire to the rain, Rolling in the deep, Don’t you remember, dan lainnya. Bukan karena saya sedang galau masalah percintaan, bukan. Tapi entahlah, saya merasa sedang cocok saja dengan lagu-lagu itu. Mungkin, hal ini disebabkan karena sebentar lagi, saya akan segera pergi merantau ke pulau seberang. Ya, hanya tinggal hitungan jam saja sebelum akhirnya saya akan pergi sementara meninggalkan keluarga, untuk belajar, demi meraih impian dan cita-cita.

Banyak sekali pikiran yang melintas dan menari-nari di kepala. Galau, kalau kata orang. Tetapi ini bukan galau tentang ruang kost yang sampai saat ini belum juga saya dapatkan. Bukan tentang uang jajan selama disana. Apalagi tentang hal receh mengenai bagaimana makan, ataupun cara mencuci baju. Bukan itu. Galau ini, lebih kepada masalah kerinduan akan keluarga. Ya, yang bahkan ketika saya belum berangkat merantau saja, rasa rindu akan keluarga itu sudah tidak dapat dibendung lagi. Sangat berat rasanya membayangkan akan hidup jauh dari Ayah dan Bunda, sosok manusia yang paling saya cintai di dunia. Apalagi harus meninggalkan hangatnya suasana rumah, yang selalu bisa memberikan saya rasa nyaman. Rumah, tempat dimana selalu dapat saya temukan kedamaian, yang di dalamnya selalu terdengar canda tawa. Rumah, tempat untuk melepas rasa penat dan keluh kesah.

Pun terasa begitu berat ketika harus berpisah sementara dengan saudara sekandung. Saudara yang telah puluhan tahun hidup bersama. Dari mulai menjalani masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, hingga menangis dan tertawa pun kami selalu bersama.

Sebagai anak yang ditakdirkan untuk dilahirkan paling akhir, maka sedari kecil hidup saya selalu sangat dekat dengan Ayah Bunda, serta saudara lainnya. Bukannya dimanja, tetapi mungkin karena saya adalah anak yang termuda, maka saya selalu dianggap sebagai anak kecil yang selalu butuh untuk dibimbing. Dan karenanya, hingga usia saya yang telah mencapai dewasa seperti sekarang, saya pun telah menjadi begitu dekat dengan mereka. Bahkan di setiap kesempatan saya pergi traveling, saya akan langsung selalu merindukan keluarga, walaupun saat itu saya baru keluar rumah selama 2 hari saja.

Perjalanan kali ini akan terasa sangat berbeda dibandingkan dengan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya. Perjalanan kali ini bukan hanya tentang menguji kemampuan fisik, nyali dan mental saya. Bukan pula hanya tentang menguji kemampuan survival untuk bisa tetap bertahan dengan segala keterbatasan. Tetapi, perjalanan kali ini adalah tentang sebuah masa depan. Perjalanan kali ini adalah tentang berlari mengejar sebuah impian.

“Bunda, kali ini Adink perginya lama loh, dua tahun” kata saya kepada bunda, disuatu malam. Bunda pun tersenyum, kemudian seperti mencoba menenangkan hati saya, anak laki-laki bungsunya, beliau pun berkata, “Iya, memang lama. Tapi kan nanti setiap libur kuliah Adink bakal pulang kerumah, jadi nggak perlu khawatir”. Bunda pun kemudian melanjutkan, “Inget, nanti disana jangan lupa minum susu terus setiap pagi, biar Adink nggak mudah sakit”.

Begitulah Bunda. Semenjak saya kecil hingga sekarang, selalu saya dibuatkan segelas susu setiap pagi. Entah apakah bunda masih ada dirumah ketika saya terbangun di pagi hari, ataupun sudah pergi berangkat ke tempat kerja. Tapi yang jelas, akan selalu tersedia segelas susu buatan bunda di atas meja. Bahkan saya masih ingat betul, ketika saya hendak mengunjungi pulau Belitung 3 tahun yang lalu, salah satu bekal dari bunda untuk saya bawa adalah beberapa botol susu cair kemasan. Dan ketika sepulangnya saya dari sebuah perjalanan, ternyata saya jatuh sakit karena kelelahan, maka tak jarang bunda mengatakan bahwa penyebabnya adalah karena saya yang tidak rutin mengkonsumsi susu selama dalam perjalanan. Ya, selalu saja tentang hal yang bernama susu.

Lain bunda, lain pula ayah. Jika bunda sangat percaya bahwa susu dapat membuat tubuh saya sehat (selain faktor “God’s Hand” tentunya), maka ayah lebih percaya kepada madu untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh. Dan menjelang keberangkatan saya merantau dalam hitungan jam ini, ayah pun telah sibuk mengajarkan saya bagaimana cara membuat minuman madu yang baik dan benar. Berapa takarannya. Jenis bahan sendok yang baik untuk digunakan. Bagaimana cara mengaduknya. Juga tentang airnya. Dan yang tidak kalah penting, adalah tentang jenis madunya sendiri. Semuanya komplit telah diterangkan dan diajarkan oleh ayah kepada saya. Tak ada satupun yang terlewatkan.

Berat rasanya jika harus hidup terpisah, walau hanya untuk sementara waktu. Tapi saya selalu ingat akan kata-kata ayah dahulu, “bahwa lebih baik kita berjauhan, tetapi selalu dalam kerinduan, daripada kita dekat tak berjarak, tetapi selalu penuh dengan pertengkaran”.
Lagipula, cepat atau lambat, suatu saat kita semua pasti akan berpisah. Entah itu karena saya bekerja di luar kota, ataupun karena telah berkeluarga. Yang jelas, ini adalah satu dari sekian banyak fase kehidupan, yang harus saya jalani dan hadapi, dan bukan untuk ditakuti, apalagi dihindari. Biarlah saya pergi sebentar, menemukan banyak pelajaran hidup yang belum pernah saya temukan sebelumnya, mendapatkan keluarga dan sahabat baru, berjuang melawan rasa rindu, untuk kemudian pulang dengan membawa bekal yang cukup, bekal yang bisa saya gunakan sebagai alat untuk melukis masa depan yang indah.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
—Imam Syafii
——————————-

    • Si Ochoy
    • August 25th, 2012

    Postingan tengah malam yang sempat membuat gue sedikit terharu bacanya. Iri sepertinya punya kedekatan keluarga seperti keluarga lo mas :’)

    Hehe..

    Gue cuma bisa bilang , wake up! Semangat lah!!! Ada jalan yg mesti lo tapakin lagi di depan. Ada pengalaman Baru yg bakal lo temuin di depan. Ada Temen2 Baru yg bakal ngisi Hari lo di depan. Dan ada masa depan cerah yg pasti lagi duduk manis nunggu lo jemput di depan sana :)

    Ganbatte Kudasai Adit san!

  1. Let me hold you tight when you need warmth, let me be the light at your dark,
    Let me cry with you in your down, let me walk with you trough your fight,
    Let me laugh with you, let me get into the pack at your celebration.
    Let me watch you close while you’re on your way chasing your life plan.

    Kak Adink, kamu harus kuat! 2 tahun tidak lama, jadwal Adink akan penuh dengan pelajaran susah level S2, bergelut dengan jadwal dosen pembimbing utk thesis rumitmu.
    Angan Adink akan selalu teroccupied dengan keluarga nan jauh disana yg penuh dengan rindu, pikiran Adink akan sibuk dengan peralihan terhadap traveling&fotografimu.
    Iya, Adink kan pejantan yang punya passion & teguh. Banyak dink yg bisa dikunjungi nanti: Karjaw,Bali,Bandung,Surabaya,Jogja,Malang tempat mbah, Dieng yg penuh kenangan, Jakarta.

    Ada aku, Yuni & Ochoy loh di Jakarta,
    Ada banyak temanmu juga disana.
    Akupun akan berkunjung mengisi harimu nanti, menjadi saksi dirimu melangkah mantap menyongsong mimpimu.

    Semangat ya, sayang.
    Doaku besertamu!

      • Si Ochoy
      • August 26th, 2012

      “Let me hold you tight when you need warmth, let me be the light at your dark,
      Let me cry with you in your down, let me walk with you trough your fight,
      Let me laugh with you, let me get into the pack at your celebration.
      Let me watch you close while you’re on your way chasing your life plan.”
      Keren nih Gee..lirik Lagu apaan? :p

      Gue gak mungkin ngomong gitu ke lo mas..tapi bener apa si Gee bilang lah.. :D

  2. Semoga diberi keselamatan dan ditambahkan rejeki bagi semua perantau dan pejalan. Selamat merantau, Dit. Selamat menikmati indahnya hidup mandiri..Everything is gonna be alright. :D

  3. Cup..cup..jgn nangis y uncle..ntr dktwain kenzei..hehe

  4. jadi inget, uda 10 tahun tinggal jauh dari rumah, dari jaman kuliah hingga skrg uda kerja.

    semangat, dit!

  5. gw banget nini mah…hhuhuhuhu

  6. menemukan blog ini melalui perantara sebuah foto hasil jepretan fotografi, bikin ane tertarik menjelajah sebagian kecil dunia maya ini.

    postingan ini, sukses mengingatkan sne kembali pada mimpi2 n cita2 yg dulu sempat terucap sebelum meninggalkan istana dunia bernama rumah dan keluarga tercinta.

    yossshhh!!!
    semangat, semangat!!!!(^_^)

    Salam kenal…. ;)

  1. No trackbacks yet.

Leave a comment...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: